131115_Akhir Zaman_Luk17_26-37-737502

PEKAN BIASA XXXII 

Santo Stanislaus Kostka; Santo Didakus; Santa Fransiska Xaveria Cabrini;

Santo Aloisius Versiglia dan Santo Callistus Caravario; Beato Engenius Bossilkov

Bacaan I: Keb. 13:1-9

Mazmur: 19:2-5; R:2a

Bacaan Injil: Luk. 17:26-37

Pada suatu ketika Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya ”Sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya. Barang siapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali.

Ingatlah akan istri Lot!  Barang siapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nya­wanya, dan barang siapa kehilangan nyawa­nya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepa­damu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.  Ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan diting­galkan.” [Kalau ada dua orang di ladang,  yang seorang akan dibawa dan yang lain akan di­tinggalkan.]  Kata mereka kepada Yesus: ”Di mana, Tuhan?” Kata-Nya kepada mereka: ”Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar.”

Renungan

Duduk di tepi pantai pada sore hari sambil menyaksikan lembayung di ufuk barat sangat indah dan mempesona. Warnanya tiada yang bisa menandingi. Debur ombak dan pantulan cahaya membuat alam ini serasa memanjakan kita. Kita hanya bisa terbelalak dan enggan untuk beranjak karena takut kehilangan setiap gerakan alam yang sedang menari-nari.

Kekaguman kita harusnya menghantar pada perjumpaan dengan Sang Pengada yaitu Allah sendiri. Dialah yang telah merangkai semuanya ini agar manusia menyaksikan dan mengakui kebesaran-Nya. Inilah sabda alam. ”Sungguh tolol karena kodratnya semua orang yang tidak mengenal Allah sama sekali; dan mereka tidak mampu mengenal Dia yang ada dari barang-barang yang kelihatan, dan walaupun berhadapan dengan pekerjaan-Nya mereka tidak mengenal Senimannya” (Keb. 13:1).

Allah itu bukanlah Allah yang jauh, tak terhingga dan tak tersentuh. Ia senantiasa memperlihatkan kehadiran dan kemurahan hati-Nya. Kita bisa merasakan-Nya kapan saja dan dimana saja. Hanya mungkin sering kali Tuhan tersembunyi bagi kita karena hati kita sudah terpaut oleh harta, pangkat, dan harga diri.

Tuhan, sungguh agung dan mulia karya tangan-Mu, tiada terkira. Segalanya telah Engkau rangkai dalam sebuah simfoni semesta yang indah. Terpujilah Engkau, Tuhan! Amin.

 

Tinggalkan Pesan