11-Nov-KWI-R-702x336

PEKAN BIASA XXXII
Peringatan Wajib Santo Martinus dari Tours, Uskup (P)

Santo Theodorus Konstantinopel

Bacaan I: Keb. 6:1-11

Mazmur: 82:3-4.6-7; R:8a

Bacaan Injil: Luk. 17:11-19

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea.  Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: ”Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Lalu Ia memandang mereka dan berkata: ”Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. Lalu Yesus berkata: ”Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?  Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu: ”Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”

Renungan

Dalam budaya hidup manusia, kita mengenal kelas-kelas yang membedakan orang satu dengan yang lain. Ada pria dan wanita, ada kaya dan miskin, ada pintar dan bodoh, ada bangsa yang terpilih dan yang tersingkir. Tentunya ada kelompok yang merasa lebih daripada yang lain. Itulah yang dialami oleh orang-orang Yahudi di zaman Yesus. Mereka adalah bangsa terpilih dan merasa satu-satunya yang akan diselamatkan Tuhan. Kepercayaan semacam ini membuat mereka merasa sombong dan meremehkan yang lain.

Kisah sepuluh orang kusta memperlihatkan bahwa hanya orang Samaria, bangsa kafir itu yang datang dan bersujud syukur di depan kaki Yesus. Orang inilah yang dibenarkan oleh Yesus karena dia sadar bahwa pemulihan dan kebaikan terjadi bukan karena ia layak mendapatkannya, tetapi karena belas kasih Allah yang memungkinkan semuanya itu terjadi.

Dalam perayaan Ekaristi, kita selalu berkata: ”saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa”. Sejak awal perayaan kita diingatkan bahwa kita ini tidak layak mendapatkan berkat yang begitu melimpah. Tetapi bagi Allah, kecil dan besar dijadikan oleh-Nya dan semua dipelihara-Nya dengan cara yang sama. Allah melimpahi berkat-Nya kepada semua orang, tanpa pandang bulu, seperti hujan yang membasahi bumi dan matahari yang menyinari semua makhluk. Besar atau kecilnya rahmat yang kita terima tergantung dari sikap dan cara kita menerimanya.

Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya; tetapi bersabdalah saja maka saya pun akan sembuh. Amin.

 

 

Tinggalkan Pesan