7-Nov-KWI-R-702x336

 PEKAN BIASA XXXI (H)

Santa Teoktista; Santo Klaudius, dkk. Martir

Bacaan I: 1Raj. 17:10-16

Mazmur: 146:7.8-9a.9bc-10; R: 1

Bacaan II: Ibr. 9:24-28

Bacaan Injil: Mrk. 12:38-44

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, ”Aku berkata kepadamu: Ikatlah per­sahabatan dengan memper­gunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi. Barang siapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barang siapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka: ”Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.”

Renungan

”Apa yang dikagumi manusia dibenci oleh Allah.” Betapa ayat ini sangat mendobrak kebiasaan kita yang begitu mudah kagum dengan perhiasan dan penampilan seseorang. Semua itu begitu mudah terlihat dan mempesona kita. Namun, semuanya itu adalah tipuan yang mengelabui mata kita.

Paulus dengan jelas menegaskan bahwa yang paling penting dalam hidup jemaat Kristus adalah ketaatan iman. Kemauan manusia untuk hidup melayani Allah dan demi kemuliaan Allah. Orang yang tergerak oleh semangat semacam ini tidak akan pernah menghiraukan pengakuan, sanjungan dan penghargaan yang ia dambakan. ”Asal Tuhan dimuliakan, cukuplah itu bagiku,” demikianlah ungkapan seorang kudus.

Maka kita pun diajak untuk menjalani panggilan hidup kita dalam semangat pengabdian yang setia. Kesetiaan kita tidak pernah boleh dipatahkan oleh perasaan sakit hati, kegagalan ataupun rasa putus asa, karena kasih karunia Kristus selalu beserta kita.

Ya Allah, aku rapuh, mudah tergoda dan jatuh dalam cobaan. Aku membutuhkan kekuatan-Mu agar bertahan dalam keutamaan. Bantulah aku, Tuhan! Amin.

min.

Tinggalkan Pesan