24-Okt-KWI-R-702x336

PEKAN BIASA XXIX (H)

Santo Antonius Maria Claret; Aloysius Guanella

Bacaan I: Rm. 8:1-11

Mazmur: 24:1-6; R:6

Bacaan Injil: Luk. 13:1-9

Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Yesus menjawab mereka: ”Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya daripada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya daripada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: ”Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!”

Renungan

Salah satu sifat buruk manusia adalah suka memperbincangkan kekurangan dan dosa orang daripada mawas diri dengan kekurangan diri sendiri. Sifat ini akan lebih buruk lagi jika dibarengi dengan rasa lebih baik dari orang lain dan tidak percaya bahwa orang lain bisa berubah dan berkembang lebih baik.

Yesus menegur orang-orang yang merasa lebih baik dari orang-orang yang ditimpa kemalangan dan menganggap orang-orang itu lebih berdosa. Yesus mengingatkan mereka bahwa dengan sikap seperti itu, mereka sesungguhnya tidak lebih baik dari orang-orang malang itu. Yesus menyerukan gerakan pertobatan bagi semua, karena seperti diungkapkan Paulus, banyak orang mengalami hidup dalam daging daripada hidup menurut Roh.

Kita pun demikian, walaupun kita telah dianugerahi Roh, kita masih cenderung mengikuti keinginan-keinginan daging. Syukurlah, kita memiliki Allah yang mau bersabar dengan diri kita dengan memberi waktu dan kesempatan untuk bertobat dan berubah. Marilah kita manfaatkan waktu yang ada untuk suatu pertobatan atas sikap dan cara hidup menurut daging itu. Inilah kesempatan bagi kita untuk menghasilkan buah-buah kebaikan. ”Jika tidak, tebanglah dia,” Firman Tuhan.

Ya Tuhan, ampunilah dosa-dosaku dan semoga aku semakin bijaksana menggunakan waktu yang Kauberi untuk bertobat. Amin.

Tinggalkan Pesan