IMG_2057 (1)

Untuk menjadi orang yang berhasil dan berguna, seorang yang sudah beristri berambisi untuk menjadi imam, padahal imam tidak boleh beristri. Ketika mendengar keterangan itu, orang yang kaya itu marah besar, maka terjadilah kekacauan.

Cerita itu dikisahkan dalam Opera Jenaka Romo (OJR) yang dipentaskan di Semarang 1 Oktober 2015 untuk mengisi Tahun Hidup Bakti, untuk berterima kasih kepada para imam, suster, bruder dan selibater awam yang bersedia menanggapi panggilan Tuhan dengan mempersembahkan hidupnya, dan untuk membantu biaya pendidikan calon imam.

Orang yang berkeinginan menjadi pastor itu adalah Petruk, yang diperankan oleh komedian Marwoto, satu-satunya pemeran bukan imam dalam punakawan. Teman-teman punakawan lain, Bagong, Semar, Gareng adalah orang miskin, namun Petruk justru orang yang kaya, yang lahir dari keluarga kaya, sehingga dengan mudah, ia bisa mendapatkan semua yang diinginkan.

Ketika para istri punakawan yang diperankan oleh Trio GAM membicarakan pendidikan anak-anaknya supaya menjadi orang yang berhasil, bahkan menjadi manusia berguna yakni bersekolah di seminari untuk menjadi imam, Petruk meski sudah beristri pun berambisi menjadi imam. Padahal imam tidak boleh mempunyai istri. Ia tetap nekad ingin menjadi imam.

Semar yang diperankan oleh Pastor FX Alip Suwito Pr memberi keterangan kepada Petruk bahwa Petruk tidak mungkin bisa menjadi pastor. Hal ini membuat Petruk marah besar. Dalam kekacauan itulah, mereka diajak menemui Bathara Guru yang diperankan oleh Den Baguse Ngarso, untuk duduk bersama para tetamu.

Maka terjadilah pembicaraan dengan Rektor Seminari Tahun Orientasi Sanjaya Pastor Matheus Djoko Setya Prakosa Pr, Pastor Agus Gunadi Pr, dan ibunda dari Pastor Agustinus Ariawan Pr yakni Agustin Endang Sukinasih. Dalam pembicaraan itu ditegaskan bahwa seorang imam tidak boleh beristri.

Pastor Gunadi menyampaikan rasa suka menjadi imam. “Pengalaman menyenangkan menjadi Romo, bahwa saya bisa mengantarkan berkat sesuai aneka pelayanan imamat saya kepada umat dan itu memberi pengharapan dan kegembiraan hati umat. Itu kegembiraan saya,”  kata imam itu.

Sedangkan Pastor  Djoko menceritakan kisah suka menjadi imam ketika umat sangat percaya kepadanya dan ia juga bisa memberikan yang terbaik untuk mereka. Ketika memberkati rumah-rumah umat, pastor itu memberi contoh, dia bisa memasuki sampai detil-detil rumah umat.

Kedua imam itu mengaku, meski sudah menjadi imam, mereka tidak jauh dari keluarga dan orang tua. Mereka masih bisa berkomunikasi dan mengunjungi orang tua mereka.

Agustin Endang Sukinasih, pada awalnya mengaku berat saat tahu bahwa anak lelakinya berkeinginan menjadi imam. Namun, sekarang ia justru senang, bangga, dan mendoakan anaknya setiap hari. Bahkan ia berpesan, “Jika ada anak yang mau jadi Romo, relakan saja!”

Menurut N Janti yang jadi ketua panitia, OJR yang akan juga dipentaskan di Yogyakarta, “diselenggarakan dalam rangka mengisi Tahun Hidup Bakti dan untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada para imam, suster, bruder dan para selibater awam yang telah bersedia menanggapi panggilan Tuhan dengan mempersembahkan hidupnya.”

Dijelaskan bahwa perolehan dana dari penjualan tiket akan dipersembahkan sebagai bea siswa pendidikan calon imam baik di Seminari Menengah Mertoyudan maupun Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan.

Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Semarang Pastor FX Sukendar Wignyosumarta Pr bersyukur karena anugerah yang istimewa dalam jalan panggilan Tuhan, dan karena “banyak pihak mendukung panggilan para imam.”

Uskup Agung Semarang Mgr Johannes Pujasumarta menyampaikan dalam sambutan tertulis bahwa diperlukan narasi-narasi kecil tentang keterlibatan dan kerjasama kaum awam bersama para imam, bruder, suster, frater serta anggota institut-institut sekulir untuk mewujudkan Gereja yang peduli, hadir dan terlibat dalam kiprah nyata membangun semangat misioner. “OJR menjadi salah satu wadah membangun kerjasama dan kebersamaan,” tulis Mgr Pujasumarta.

Sejumlah frater dan pastor menyanyikan beberapa lagu. Para suster pun turut menari. Dan umat yang sebelumnya sangat antusias membeli tiket benar-benar terpingkal-pingkal menyaksikan ulah para pastor yang berperan sebagai punakawan dalam OJR bertajuk Petruk Pengen Dadi Romo (Petruk Ingin Jadi Pastor) yang disutradarai oleh Djaduk Ferianto itu. (Lukas Awi Tristanto)

IMG_2062

IMG_2074

4 KOMENTAR

  1. Saya usul juga nih, barangkali ojr bisa berkeliling di seluruh keuskupan, pastinya akan diterima dengan senang hati. Ayo siapa usul lagi?

  2. Pria berkeluarga tidak boleh menjadi imam, tapi banyak imam yang berhasil mencapai keinginannya untuk mendapatkan istri meskipun harus “lepas jubah”. Atau tetap berjubah dengan istri simpanannya. Hendaknya pesan yang tersirat dalam drama tersebut tidak hanya dapat ditangkap oleh awam saja, tetapi juga oleh kaum kleris. Fenomena yang kerap terjadi di lingkungan kita ini kita rasakan dengan berbagai cita rasa antara lain MENGECEWAKAN dan MEMALUKAN. Semoga Tuhan membantu para orang pilihanNya untuk menjadi kuat melaksanakan panggilannya.

  3. Wah bisa ga kebayang kalo pentas di solo Surakarta. Pak Fx Rudiyatmo sbg Walikota Solo semoga bisa melaksanakannya.Amin

Tinggalkan Pesan