20150924_180221_resized

Untuk membangun kerjasama antaranggota, kaum religius Keuskupan Agung Makassar melaksanakan rekoleksi dan membentuk Forum Komunikasi Hidup Bakti (FKHB), “supaya para anggota Hidup Bakti dalam karya-karya dan kesaksian hidup di tengah Gereja Keuskupan dan Masyarakat lebih terasa.”

Pastor Albertus Sujoko MSC yang menjadi salah satu pembicara dalam rekoleksi itu mengatakan hal itu dalam sebuah milis dan menyetujui media ini mengelola dan mengangkatnya.

Selama ini ada kesan dari umat dan pihak keuskupan bahwa kaum religius di Makassar ada di mana–mana, tetapi tidak ke mana-mana. Karena tidak ke mana-mana, maka kehadiran mereka kurang dirasakan,” lanjut imam yang berkarya di Sekolah Tinggi Filsafat Pineleng, Keuskupan Manado.

Rekoleksi 24 September 2015 di kompleks Persekolahan Rajawali milik Suster-Suster JMJ Provinsi Makassar itu dihadiri seluruh anggota Hidup Bakti yang berkarya di Keuskupan Agung Makassar

Mereka adalah para suster dari tarekat JMJ, CIJ, BKK, SSPS, FCJM, dan PRR, para imam religius dari MSC dan CICM, serta para frater HHK dan CMM. Vikaris Jendral Keuskupan Agung Makassar hadir juga dalam rekoleksi itu.

“Paus Fransiskus menghimbau agar kaum religius keluar dari biaranya dan menjumpai banyak orang di masyarakat, demikian pula para religius di Makassar ingin lebih mewujudkan himbauan Paus itu,” kata Pastor Sujoko.

 

Memang, lanjut imam itu, setiap hari kaum religius sudah keluar dan berkarya di sekolah, rumah sakit, dan panti sosial, “namun di dalam tarekat masing-masing, mereka ingin membentuk synergitas di antara Lembaga Hidup Bakti supaya dapat berkarya secara lebih efektif.”

 

Dalam sambutan penutup sesudah Misa, lanjut Pastor Sujoko, Vikjen Keuskupan Agung Makassar menegaskan bahwa “kaum religius yang luar biasa itu adalah mereka yang biasa di luar.”

 

Bekerja bersama, “lebih bermakna daripada bekerja dalam kelompok sendiri, apalagi bekerja sendiri-sendiri,” kata Pastor Sujoko mengutip perkataan vikjen, seraya berharap agar kata-kata singkat dan jelas dari vikjen menjadi arahan dan motivasi untuk bertindak selanjutnya.

 

Secara pribadi Pastor Sujoko senang diundang memberikan rekoleksi itu dan bertemu dengan sahabat-sahabat sepanggilan yang berkarya di Keuskupan Agung Makassar. “Perjumpaan selalu menambah pengalaman dan memperkaya kehidupan,” kata imam itu. (pcp)

 

 

Tinggalkan Pesan