Paus Fransiskus dan Fidel Castro

Paus Fransiskus telah meninggalkan Kuba dan terbang ke Amerika Serikat tanggal 22 September 2015. Sesuai tradisi, Paus selalu mengirim telegram ke negara-negara yang baru ditingalkan. Dan ketika meninggalkan Kuba, Paus mengirim juga telegram kepada Presiden Raul Castro Ruz dan kepada Ketua DPR serta menteri-menteri Republik Kuba.

“Saat meninggalkan Kuba, saya ingin mengungkapkan terima kasih mendalam kepada yang mulia dan kepada semua orang Kuba atas sambutan hangat kalian. Saya memohon agar Tuhan Yang Maha Esa memberkati kalian semua dan saya memastikan akan berdoa bagi perdamaian dan kemakmuran kalian,” demikian bunyi telegram itu.

Satu hal penting yang dilakukan Paus di Kuba adalah pertemuan pribadi dengan pemimpin revolusi Fidel Castro di rumah pensiunan Presiden yang berusia 89 tahun itu. Pertemuan itu berlangsung 30-40 menit dan dihadiri istri, anak-anak, serta cucu dari Fidel Castro.

Paus memberi beberapa buku kepada Castro. Juga diberikan buku dan dua CD berisi homili Paus serta dua surat ensikliknya Lumen Fidei dan Laudato Si’. Sebaliknya, Castro memberikan sebuah buku wawancara berjudul, “Fidel and Religion,” yang ditulis tahun 1985 oleh seorang imam Brasil Frei Betto. Di situ ditulis: “Untuk Paus Fransiskus, pada kesempatan kunjungannya ke Kuba, dengan kekaguman dan rasa hormat orang-orang Kuba.”

Kepala Kantor Pers Vatikan, Pastor Federico Lombardi, mengatakan bahwa pertemuan itu berlangsung “akrab dan informal,” dan kedua tokoh itu berbicara tentang “lingkungan hidup dan masalah-masalah besar dunia kontemporer.”

Pertemuan itu berlangsung hanya beberapa jam setelah Paus, dalam Misa di Plaza Revolusi Havana, 20 September 2015, mendesak orang Kuba untuk saling melayani bukan melayani ideologi. Pesan Paus itu tepat sasaran karena negara mereka yang diperintah Komunis itu memasuki era baru berupa hubungan lebih dekat dengan Amerika Serikat.

Sore hari itu, Paus Fransiskus juga pergi ke Istana Revolusi dan mengadakan pembicaraan pribadi selama sekitar satu jam dengan Presiden Raul Castro, adik dari Fidel yang berusia 84 tahun.

Berbicara dalam Vesper di Katedral Havana 20 September 2015, Paus Fransiskus mengesampingkan homili yang disiapkan dan berbicara dari hati dengan para imam, kaum religius, dan frater calon imam. Paus mendorong mereka untuk menjadi “Gereja miskin” dan “tidak pernah bosan menunjukkan kemurahan” kepada sesama.

Di hari yang sama, Paus mendesak kaum muda Kuba untuk mengikuti jalan harapan, yang dibangun di atas solidaritas dan perjumpaan dengan sesama. Kata-kata Paus itu terungkap dalam pertemuan dengan beberapa ribu mahasiswa yang berkumpul di pusat kebudayaan Pastor Felix Varela di Havana.

Berbicara tanpa teks, Paus mendorong kaum muda untuk tetap menghidupkan impian mereka dan tetap fokus pada hal-hal yang menyatukan, bukan hal-hal yang memisahkan mereka. Paus juga bicara tentang masalah pengangguran dan kebutuhan kaum muda untuk menciptakan budaya perjumpaan, seraya mendesak mahasiswa untuk tetap membuat hati dan pikiran mereka terbuka.

Tanggal 21 September 2015, Paus mengadakan perjalanan dari ibukota Kuba, Havana, menuju Kota Holguin dan Santiago de Cuba di ujung timur negara pulau Karibia itu. Kedua kota itu terkait erat dengan patung terkenal Our Lady of Charity of El Cobre (Bunda Amal Kasih dari El Cobre), yang secara resmi dinyatakan oleh Paus Benediktus XV seabad yang lalu sebagai pelindung rakyat Kuba.

Di sana, Paus Fransiskus menyatu bersama kerumunan peziarah lain untuk berdoa di depan patung yang dikenal dengan nama La Mambisa itu. Paus juga merayakan Misa di sana tanggal 22 September dan kembali mendedikasikan bangsa Kuba kepada La Mambisa. (paul c pati beberapa tulisan yang diterbitkan oleh Radio Vatikan)

Paus di Lapangan Revolusi Havana foto Reuters

Paus Fransiskus di Basilika Virgen de la Caridad del Cobre diambil dari Reuters

Paus mengirim telegram dari pesawat Alitalia yang melayani Paus ke Cuba ini

Tinggalkan Pesan