CPS1cwrWoAQXWJt

Paus Fransiskus memulai kunjungan apostolik ke Kuba tanggal 19 September 2015, saat pesawat yang membawanya mendarat di ibukota negara Havana tempat Paus disambut oleh Presiden Kuba Raul Castro, para otoritas lainnya, serta para uskup.

Kunjungan Bapa Suci tanggal 19-22 September 2015 ke negara pulau itu bertepatan dengan ulang tahun kedelapan puluh pembaharuan hubungan diplomatik antara Republik Kuba dan Tahta Suci. Tahun ini, negara itu juga merayakan seratus tahun penetapan Bunda Amal Kasih dari El Cobre sebagai pelindung Kuba oleh Paus Benediktus XV.

“Hari ini saya akan pergi ke El Cobre, sebagai anak dan peziarah, berdoa kepada Bunda kita bagi semua anak-anak Kuba dan bagi bangsa tercinta ini, agar bisa menjalani perjalanan keadilan, perdamaian, kebebasan dan rekonsiliasi,” kata Bapa Suci.

Paus Fransiskus adalah Paus ketiga yang datang ke negara Karibia itu. Sebelumnya Santo Yohanes Paulus II di tahun 1998, dan Paus Emeritus Benediktus XVI di tahun 2012.

Pada hari penuh pertama di Kuba, Paus Fransiskus merayakan Misa Minggu dengan tema pelayanan di Havana Plaza de la Revolución. Saat tiba di Plaza itu, Bapa Suci berhenti di sepanjang jalan untuk memberkati dan merangkul beberapa orang muda berkebutuhan khusus, sebuah isyarat tentang apa yang akan Paus suarakan suara homili: “Melayani orang lain terutama berarti peduli terhadap kerentanan mereka.”

Paus juga memuji kecintaan orang Kuba terhadap keindahan, seraya mengatakan “umat Allah yang suci dan beriman di Kuba adalah umat yang memiliki cita rasa pesta, persahabatan, hal-hal yang indah.”

Dalam sambutan saat Doa Angelus seusai Misa di hari Minggu 20 September 2105, Paus Fransiskus memohon agar pembicaraan damai yang sedang berlangsung antara pemerintah Kolombia dan perwakilan pemberontak FARC di ibukota Kuba mencapai hasil yang sukses.

“Semoga darah yang dicurahkan oleh ribuan orang yang tidak bersalah selama dekade-dekade konflik bersenjata yang lama, disatukan dengan darah Tuhan Yesus Kristus yang disalib, menopang semua upaya yang sedang dilakukan, termasuk upaya-upaya di pulau indah ini, untuk mencapai rekonsiliasi yang pasti.”

“Semoga malam panjang rasa sakit dan kekerasan dapat, dengan dukungan dari semua orang Kolombia, menjadi hari kerukunan, keadilan, persaudaraan dan cinta yang tidak berakhir, demi lembaga-lembaga dan hukum nasional dan internasional, sehingga ada perdamaian abadi di sana,” lanjut Paus.

Momen itu sangat penting, kata Paus, seraya menambahkan, “kita tidak berhak untuk membiarkan diri kita gagal lagi di jalan perdamaian dan rekonsiliasi ini.”(paul c pati dari sumber Radio Vatikan)

Pemandangan Lapangan Revolusi Havana tempat Paus merayakan Misa

Misa Paus Fransiskus di Plaza Revolusi Havana 20 September 2015

472838352-pope-francis-talks-with-cuban-president-raul-castro.jpg.CROP.promo-xlarge2

Dari atas ke bahwa: Paus Fransiskus diterima oleh Presiden Raul Castro saat tiba di Cuba (oleh Catholic Herald), Plaza Revolusi tempat Misa yang dipimpin Paus, Perayaan Mia di Plaza Revolusi, dan (bawah) Paus ketika bertemu dengan Presiden Raul Castro di Vatikan 10 Mei 2015 (Foto AFP)

 

 

Tinggalkan Pesan