Mrk 9_30-37 (250214)

PEKAN BIASA XXV (H)

HUT Kongregasi BTD
Santa Kolumba dan Pamposa; Santo Eustakius

Bacaan I: Keb. 2:12.17-20

Mazmur: 54:3-4.5.6.8; R: 6b

Bacaan II: Yak. 3:16 – 4:3

Bacaan Injil: Mrk. 9:30-37

Setelah Yesus dimuliakan di atas gunung, Ia dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: ”Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.” Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya. Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: ”Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: ”Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka:  ”Barang siapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barang siapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.”

Renungan

Kisah Injil hari ini sangat menarik. Di saat Yesus memberitahukan kepada para murid bahwa Dia akan mengalami penderitaan dan penyiksaan, para murid malah berbicara tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Seakan-akan para murid tidak mengerti visi dan misi kehidupan Yesus di dunia ini. Para murid berpikir bahwa Yesus akan menjadi raja dan pemenang di dunia ini, sehingga mereka berpikir tentang kekuasaan. Yang terjadi adalah sebaliknya bahwa Yesus justru mengalami penghinaan secara manusiawi.

Sudah sejak lama, kita mendengar tentang prosperity Gospel atau Injil kemakmuran, artinya kalau kita setia ikut Tuhan maka kita akan mendapat ganjaran berupa kesuksesan, kekayaan, kesehatan dan aneka berkat material lainnya. Tentu syukur kepada Allah bila hal itu terjadi dalam hidup kita. Akan tetapi, pertanyaan teologis sulit kerap muncul, ‘bagaimana dengan orang-orang yang hidupnya sudah baik dan jujur, namun kok tetap miskin, sakit tidak sembuh atau justru mengalami penderitaan lainnya?’

Pada titik inilah Yesus ingin memberi makna kepada semua penderitaan yang dialami oleh manusia. Hidup kita tidak berhenti di dunia ini. Penderitaan di dunia hanya mendapat makna sejatinya kalau kita kaitkan dengan kehidupan yang akan datang.

Ya Bapa, semoga aku hidup bukan sekadar mengejar kesuksesan duniawi, namun juga berani ikut serta memanggul salib bersama-Mu. Amin.

 

Tinggalkan Pesan