DSC_0288-1024x685-01

Sekarang di Indonesia, ada lima imam Dominikan (OP), dua di Pontianak dan tiga di Surabaya, ada sekitar 100 suster dari Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia, yang tersebar di Cimahi, Purwokerto, Cirebon, Yogyakarta, Jakarta, Rawaseneng, Wonosari, Larantuka, Majenang, dan Surabaya, ada juga suster-suster OP dari kongregasi lain di Pontianak dan Ruteng, dan Bali, serta ada 140 awam OP di Pontianak, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Cirebon.

Pastor Andreas Kurniawan OP, dan Koordinator Dominikan Awam se-Indonesia Theo Atmadi OP menjelaskan tentang perkembangan Keluarga Dominikan Indonesia dalam “Refleksi Keluarga Dominikan di Indonesia dan Australia” di Gedung Pertemuan Rosario, Strathfield, Sydney, Australia, 16 Agustus 2015.

Lebih dari 40 orang datang mempelajari dan berbagi wawasan tentang Keluarga Dominikan di Indonesia dan Australia dalam pertemuan itu. Selain imam dan awam dari Indonesia, peserta juga mendengarkan masukan dari Suster Trish Madigan OP, Suster Elizabeth Hellwig OP, Marg O’Shea, Pastor Mannes Tellis OP, dan Ian Cooper OP dari Australia.

Pertemuan itu juga dihadiri oleh Uskup Emeritus Gizo, Kepulauan Solomon, Mgr Bernard O’Grady OP, yang pernah bekerja lebih dari 40 tahun di Kepulauan Solomon.

Dalam laporan, yang juga dibagikan kepada PEN@ Katolik, kedua wakil Indonesia itu menceritakan sejarah Ordo Dominikan di Indonesia, yang pertama datang ke Malaka tahun 1511, hingga pengusiran imam-imam asal Portugal oleh pemerintah kolonial Belanda di pertengahan abad ke-17, dan dibukanya kembali komunitas imam-imam Dominikan di Indonesia oleh Provinsi Filipina tahun 2006.

Komunitas pertama dibuka di Pontianak. Sekarang, dari lima imam OP di Indonesia, dua berada di sana. Di Pontianak ada yang bertugas sebagai Rektor Seminari Interdiosesan Regio Kalimantan dan ada yang bertugas sebagai direktur pusat penelitian dan dialog antaragama. Komunitas berikut dibuka di Surabaya. Tiga imam OP menjalankan Paroki Redemptor Mundi di Keuskupan Surabaya.

Juga dijelaskan tentang Dominikan Awam di Indonesia yang secara resmi didirikan tahun 2008 di Pontianak dan tahun 2009 di Jakarta dan sekarang memiliki sekitar 140 anggota yang tersebar Pontianak, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Cirebon. Para imam dan suster OP terlibat dalam pengembangan dan karya-karya kelompok ini.

Para suster Dominikan pertama datang ke Indonesia tahun 1931 dari kongregasi yang didirikan di Belanda tahun 1848. Awalnya para suster berkarya di Cilacap, Jakarta dan Cimahi. Dalam Perang Dunia II, para suster Belanda diinternir. Setelah tahun 1950, para suster Dominikan mulai melebar ke kota-kota lain dan kini berada di Cimahi, Purwokerto, Cirebon, Yogyakarta, Jakarta, Rawaseneng, Wonosari, Larantuka, Majenang, dan Surabaya.

Tahun 1987, lanjut laporan mereka, kongregasi suster yang berpusat di Pejaten, Jakarta, itu menjadi independen: Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia dengan novisiat di Yogyakarta. Sekitar 100 suster OP di Indonesia kini terlibat dalam pendidikan, perawatan anak, perawatan lansia, kesehatan dan pelayanan pastoral.

Keluarga Dominikan Indonesia mendirikan Martin de Porres Foundation dan menjalankan toko online untuk buku-buku dan barang-barang rohani lewat www.tokorohanikatolik.com, sebuah media berita online  www.penakatolik.com, dan menerbitkan majalah bulanan Arue, buku doa Verbum Veritatis, dan buku-buku agama lainnya, serta majalah-majalah sekolah di persekolahan yang dijalankan para suster OP.

Sekarang ini, menurut laporan mereka, ada juga suster-suster OP lain di Indonesia, yakni Dominican Sisters of Blessed Imelda di Pontianak, Suster-Suster Dominikan Putri-Putri Rosario dari Pompei, Italia, di Ruteng dan Bali, dan Suster-Suster dari Asti di Ruteng.

Dari pihak Australia dijelaskan bahwa Provinsi Maria Diangkat ke Surga mencakup empat negara di kawasan Asia Pasifik, yakni Australia, Selandia Baru, PNG dan Kepulauan Solomon. Sudah hampir 150 tahun para imam Dominikan berkarya di wilayah-wilayah itu. Sebuah yayasan resmi pertama di Australia dibuat tahun 1898 di Adelaide oleh biarawan dari Provinsi Irlandia. Provinsi itu sendiri didirikan tahun 1950 dan menjalankan  pelayanan paroki di seluruh negara bagian Australia kecuali Tasmania.

Pastor Mannes Tellis OP juga mensharingkan tentang imam Dominikan Provinsi Australia yang meliputi Selandia Baru, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, yang awalnya dari Provinsi Irlandia.

Secara historis, kehadiran para imam Dominikan di Selandia Baru cukup beragam. Saat ini ada empat imam bekerja di Auckland. Seiring dengan komitmen untuk pelayanan parokial dan kapelan di Australia dan Selandia Baru, para imam Provinsi itu terlibat dalam pendidikan akademik dan pendampingan bagi ordo ketiga, serta mengurus wilayah-wilayah paroki yang besar di Kepulauan Solomon. Secara statistik, Provinsi itu berkembang pesat di PNG dan Kepulauan Solomon, dan di Australia ada sejumlah pria yang kini berada dalam berbagai tahap pembinaan.

Kongregasi Suster-Suster Dominikan di Australia, Selandia Baru dan Kepulauan Solomon pertama didirikan di Galway, Irlandia, tahun 1644. “Delapan anggota komunitas gagah berani ini pindah ke Dublin tahun 1717. Setelah 100 tahun mereka berkurang hingga tiga suster saja, tetapi mengikuti tradisi keberanian yang luar biasa dan mengambil risiko. Tahun 1817, mereka membeli properti di pinggiran Dublin. Setelah pengorbanan besar dalam proses pendidikan Katolik, terutama bagi perempuan, pelayanan dan jumlah mereka bertumbuh sedemikian rupa sehingga mereka mampu membuat yayasan-yayasan di Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan dan Amerika,” demikian laporan para suster.

Saat ini di Australia, lanjut laporan itu, Suster-Suster Irlandia ini terwakili khususnya melalui Federasi Suster-Suster Dominikan di Oceania, bersama para suster yang didirikan di Stone, Inggris. Kongregasi-kongregasi lain di Australia termasuk Suster-Suster Santa Cecilia, Nashville, Suster-Suster Dominikan dari Malta dan Suster-Suster Dominikan Vietnam di Melbourne. Semua kongregasi itu adalah anggota dari Suster-Suster Dominikan Internasional yang mewakili 24.500 Suster-Suster Dominikan dari Kehidupan Apostolik yang ada di 111 negara di seluruh dunia.

Sejak awal, Santo Dominikus memiliki jaringan orang-orang yang aktif terlibat dalam misi pewartaan,  doa, studi dan pelayanan. Kini, jaringan Keluarga Dominikan di Australia mencakup dua kelompok utama Dominikan Awam, yakni kelompok berbahasa Inggris dan berbahasa Vietnam. Mereka terorganisir dalam Chapter-Chapter. Anggota-anggota yang sudah profesi menggunakan nama OP di belakang namanya.

Selain itu, ada beberapa pro-chapter yang terdiri dari mahasiswa-mahasiswa yang disertai imam Dominikan sebagai pembimbingnya, kelompok-kelompok teman sejawat yang berkaitan dengan Suster-Suster Dominikan, dan jaringan luas beranggotakan staf dan kolega di sekolah-sekolah yang menjalankan tradisi Dominikan.

Persaudaraan Awam Santo Dominikus – Provinsi Maria Diangkat ke Surga telah memiliki lebih dari 77 anggota yang sudah profesi yang tersebar di seluruh Australia. Chapter-Chapter  berbasis paroki ada di Brisbane, Sydney, Canberra, Adelaide, Perth dan Melbourne. Ada juga Chapter-Chapter yang dimulai dengan para suster di Maitland, Newcastle dan Moss Vale. Chapter-Chapter ini diselenggarakan oleh Dominikan Awam. Imam dan suster Dominikan berperan sebagai asisten religius. (paul c pati)

DSC_0297-1024x685-01

DSC_0255-1024x685-02

DSC_0306-1024x685-01

Keterangan foto dari atas:  Theo Atmadi OP, Mgr Bernard O’Grady OP (tengah) berbicara dengan Dominikan dari Indonesia dan Australia, suasana pertemuan, banner Keluarga Dominikan mencari kebenaran, keadilan dan perdamaian, di depan ruang pertemuan

 

 

Tinggalkan Pesan