exterior

Menyambut Yubileum 800 Tahun Ordo Dominikan (OP) bertema “Send to Preach the Gospel” (diutus untuk mewartakan Injil), yang bertujuan untuk tumbuh bersama dalam persaudaraan sehati sejiwa melalui pertobatan, Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia mengadakan berbagai kegiatan dalam Tahun Hidup Bakti, antara lain dengan “Live-in Medior.”

Dalam tahun 2015, live-in bagi para suster medior dibagi dalam dua gelombang, pertama di Cisantana, Jawa Barat, dan kedua di Surabaya, Jawa Timur. Para suster medior lain akan menjalani live-in di tahun 2016, kata Suster Charlie OP, yang menjalani program itu di Paroki Redemptor Mundi Surabaya, kepada PEN@ Katolik.

Live-in di Paroki Redemptor Mundi yang dijalankan oleh imam-imam Dominikan diikuti oleh sembilan suster medior, lima dari komunitas Purwokerto, dua dari komunitas Cirebon, dan dua dari komunitas Yogyakarta. Paroki yang dipimpin oleh Pastor Andreas Kurniawan OP dan dibantu oleh dua imam OP dari Filipina itu memiliki juga rumah bina bagi 13 frater calon imam OP serta komunitas suster OP yang terdiri dari dua suster, Suster Hermine OP dan Suster Inocensia OP. Di Surabaya, termasuk  paroki itu, ada juga kelompok Dominikan Awam.

“Bagi kami suster medior, live-in tanggal 15-17 Agustus 2015 merupakan kesempatan  membaharui diri dalam pewartaan yaitu bertumbuh bersama dalam persaudaraan sehati sejiwa melalui pertobatan dan merupakan rasa syukur karena boleh belajar hidup bersama di tengah keluarga umat,” kata Suster Charlie dalam laporannya yang dikirim ke media ini.

Di paroki itu, suster itu melihat pemandangan yang tidak biasa dilaksanakan di paroki lain. “Setiap pagi sejak Senin hingga Jumat pukul 05.30, Paroki Redemptor Mundi merayakan Ekaristi yang juga mendoakan ofisi bersama umat. Kesetiaan umat berekaristi digabung dengan ofisi menunjukkan bahwa umat semakin rindu berlama-lama dengan  Tuhan,” kata suster.

Selain enam Misa sejak Sabtu sore hingga Minggu, ada juga Misa ber-Bahasa Inggris pada Minggu pukul 10.00. Yang paling unik, kata suster, kolekte dengan petugasnya anak-anak berusia antara 4-10 tahun berjalan tertib dan rapi.

“Saya melihat ini sebagai terobosan yang membuat perayaan Ekaristi semakin hidup dan menarik. Melibatkan anak-anak dalam perayaan Ekaristi, apalagi dengan memberi tugas kepada mereka merupakan cara sangat efektif dalam penanaman iman sejak dini. Ini pendidikan iman yang menyenangkan dan membanggakan anak-anak,” kata Suster Charlie.

Perayaan Ekaristi, Minggu, 16 Agustus 2015, melibatkan para suster peserta live-in. Selain tugas koor, mereka diberi kesempatan untuk promosi panggilan. “Saat persembahan, Suster Mariany OP mempersembahkan suara merdu lewat lagu ‘Ave Maria’. Provinsial Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia Suster Anna Marie OP dan Suster Hermine OP, yang merintis pelayanan suster OP di Surabaya hadir saat itu.”

Dewan Karya Pastoral yang diwakili Ketua Bidang Pembinaan Wilhelmus Welem dan Ketua Seksi Karya Misioner Sonny Gunawan, serta para ketua lingkungan menerima para suster tanggal 15 Agustus 2015 dan diantar ke rumah umat di sembilan lingkungan.

Selama live-in, para suster menyesuaikan diri dengan acara lingkungan tempat mereka tinggal. Selain sarasehan dan pengenalan dengan umat di lingkungan, mereka mengisi pendalaman iman untuk anak-anak dan orang muda.

“Dalam ramah tamah, kami berbincang-bincang untuk saling mengenal lebih dalam dan akrab, dan menjaring anak muda untuk menanggapi panggilan hidup bakti secara khusus yaitu menjadi calon imam dan suster. Kami juga memperkenalkan keberadaan pastor, frater dan suster OP di paroki itu.”

Saat sarasehan terungkap kurangnya keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja. Mereka pun bersama-sama mencari penyebab dan solusinya. Menyadari usia muda adalah masa mencari identitas diri, sibuk belajar, dan kerja untuk mencukupi hidup, maka solusi yang ditawarkan adalah “membuat acara kumpul kaum muda dengan menghadirkan narasumber berkompeten guna memberi pembekalan wirausaha, supaya mereka mampu menciptakan lapangan kerja.”

Para suster juga mengunjungi keluarga umat di lingkungan untuk menyapa dan mendengarkan “curahan hati”.  Saat itu, Suster Charlie terharu mendengar iman luar biasa dari seorang janda miskin. “Ia hidup di tengah mayoritas umat Muslim, jauh dari rumah umat Kristiani yang lain. Ketika saya bertanya mengapa dia mencintai Yesus, dia menjawab ‘Pejah gesang kulo nderek Gusti, suster’ (hidup dan mati saya ikut Yesus, suster),” cerita suster itu.

Bertepatan dengan Perayaan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-70, para suster membaur dengan masyarakat umum dalam tirakatan yang dikemas dalam “Kumpul Bocah.” Acara itu “sangat mengharukan, karena kehadiran kami mendapatkan tempat di hati warga yang mayoritas Muslim.”

Suster Charlie pun didaulat untuk memberi sambutan. Setelah memperkenalkan nama, suster  menjelaskan tujuan kehadiran mereka di keluarga umat. “Kami larut dalam kegembiraan bersama pada hari kemerdekaan tanpa ada sekat-sekat,” jelas suster.

Malam semakin larut, dengan dikawal beberapa umat, para suster dengan tetap mengenakan pakaian resmi atau jubah menyusuri Pemakaman Kembang Kuning Surabaya untuk mengenal kehidupan malam bagi para waria dan ‘si hidung belang’.

“Selamat malam, Suster,” sapa seorang bapak di pinggir makam. ”Selamat malam, Pak, Merdeka!” balas suster itu. “Merdeka, Suster,” lanjut pria itu. “Hatiku terasa pilu, dan batinku bergumam, mungkinkah dia umatku?” kata suster itu.

Pemandangan di pemakaman itu, tulis Suster Charlie, “sangat mengusik hati nan perih, kehidupan yang gelap dan ngeri yang penuh resiko, dan kami merenung dan membawanya dalam doa.” (Sr Charlie OP/pcp)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Pesan