15-Sept-KWI-R-702x336

PEKAN BIASA XXIV (H)

Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita (P)
Santa Katarina Fieschi dari Genoa; Santo Nikomedes

Bacaan I: 1Kor. 12:31-13:13/Ibr. 5:7-9

Mazmur: 31:2-3a.3b-4.5-6.15-16.20

Bacaan Injil: Yoh. 19:25-27

Dekat salib Yesus, berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, istri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: ”Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: ”Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

Renungan

Hari ini Gereja secara khusus mengenangkan ‘Kedukaan Santa Perawan Maria’. Banyak sekali penderitaan yang dialami Maria sepanjang perjalanan hidupnya bersama Yesus, Anaknya, dalam karya agung penyelamatan umat manusia dari dosa. Maria menyertai Yesus dalam suka dan duka sejak Ia di dalam kandungannya hingga akhir hayat-Nya di bawah kaki salib. Ibu siapa yang bisa setegar Maria, menyaksikan anak kandungnya dicemooh, diolok-olok dan dicaci maki, dicambuki dan disiksa keji dalam jalan salib menuju Golgota, dan akhirnya dipaku di kayu salib dan mati di sana. Dukacita Maria teramat dalam. Semuanya itu sanggup ia hadapi sebagai bukti bahwa Maria benar-benar dirahmati Tuhan dan diberi karunia iman, pengharapan, dan kasih yang luar biasa akan janji keselamatan-Nya. Oleh karena itu, Gereja menamai Maria sebabagai ‘Mater Dolorosa”, Bunda Kedukaan, ‘Ratu Para martir’.

Pengalaman dukacita juga merupakan pengalaman kita sebagai manusia. Namun, yang berbeda sering kali dalam cara kita menyikapinya. Dukacita bisa membuat kita putus asa, lekas menyerah, dan tidak mau berusaha untuk bangkit kembali dari keterpurukan. Hanya orang yang memiliki iman, harapan, dan kasih yang teguh akan Tuhan dan janji-janji-Nya, yang sanggup melihat kemuliaan di balik penderitaan dan kematian yang penuh dukacita itu. Mari kita belajar dari Maria dan memohon pertolongannya dalam melewati masa-masa yang sulit dan penuh kecemasan.

Bunda Maria, Bunda Kedukaan kami, kuatkanlah aku di kala sedang dilanda duka dan kecemasan, agar aku sanggup menemukan maksud Tuhan yang mengantar aku kepada sukacita abadi. Amin.

 

Tinggalkan Pesan