oke grego ultah ketiga

Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Jakarta (Vikjen KAJ) Pastor Samuel Pangestu Pr mengatakan, ada dua hal yang menjadi tantangan terbesar dalam kehidupan manusia di era global ini yaitu penyingkiran Allah dan ketidakpedulian antarmanusia.

“Banyak keinginan, kehendak, bahkan hidup orang beriman yang layaknya seperti menggunakan mesin ATM (Anjungan Tunai Mandiri), kalau memerlukan uang ia datang ke ATM, namun selama tidak membutuhkan, ia ‘lari’ meninggalkan Tuhan,” kata imam itu.

Pastor Samuel Pangestu berbicara di hadapan 1.500 umat yang menghadiri Perayaan Ekaristi HUT ke-3 Paroki Santo Gregorius Agung Kutabumi, 6 September 2015. Kepala Paroki Pastor Andy Gunardi Pr dan Pastor Rekan Pastor Ignatius Wicaksono Pr menjadi konselebran Misa yang bertema “Menjadi Hamba bagi Sesama dalam Semangat Kasih” itu.

Lewat Injil hari itu, Vikjen mengajak umat untuk menghadapi dua tantangan itu dengan menggambarkan bagaimana Yesus menyembuhkan seorang tuli. “Peristiwa berahmat bagi penderita tuli itu adalah simbol ajakan bagi pengikut Yesus untuk semakin terbuka mata hati dan telinganya untuk memberikan perhatian kepada orang lain,” kata imam itu.

Pastor Samuel, yang pernah berkunjung ke tempat Bunda Teresa berkarya di India, menceritakan bagaimana orang-orang yang sangat menderita menerima perhatian dan cinta yang tulus di sana.

Pengalaman akan penderitaan bisa membuat orang meninggalkan Tuhan, kata Pastor Samuel. “Namun Yesus sendiri mengatakan bahwa dalam penderitaan justru kasih Allah semakin dinyatakan.”

HUT ke-3 paroki itu digabungkan dengan pelantikan pengurus Dewan Pastoral Paroki periode 2015-2018, yang sebelumnya dibina selama tujuh bulan lalu yang ditutup dengan retret.

Sehari sebelum perayaan itu, anak-anak BIR, BIA, OMK dan umat lainnya mementaskan drama kolosal yang disaksikan oleh ribuan umat Katolik dan non-Katolik. Drama bertema “cinta kasih dan kebersamaan” yang ditulis oleh Pastor Wicaksono itu menampilkan juga presenter kondang Jeremy Tety dan Diedik SSS dengan tiupan saxophone.

Menurut Pastor Wicaksono, drama yang merupakan perpaduan seluruh rangkaian retret pasutri, OMK, BIR, dan BIA itu, memiliki pesan penting yakni cinta akan sesama dan semangat juang tinggi kendati menghadapi hambatan. (Konrad R Mangu)

Tinggalkan Pesan