logo-irrika-copy

Meskipun tinggal jauh dari negaranya, sebagai warga negara Indonesia yang sekaligus warga Gereja Katolik, para rohaniwan-rohaniwati Indonesia yang ada di Roma telah membentuk paguyuban sebagai wadah persaudaraan berdasarkan iman Katolik dan cinta tanah air.

Mulanya, tanggal 13 Februari 1955, para pastor dari Indonesia yang sedang studi di Roma membentuk paguyuban dengan nama IRIKA (Ikatan Romo-Romo Indonesia di Kota Abadi – Roma). Para pendirinya adalah Pastor Jacobus Melsen OCarm, Pastor Yustinus Darmojuwono Pr, Pastor Thaddeus Kirdi Dipojudo OCarm, Pastor Mikael Mige Raya SVD dan Pastor Leo Soekoto SJ. Ketua pertamanya adalah Pastor Yustinus Darmojuwono Pr. Saat itu semua imam itu sedang belajar di Roma.

IRIKA, yang berpedoman pada Anggaran Dasar, yang disahkan pada November 1955, berkembang dan menjadi terbuka untuk para suster, bruder dan frater. Maka, namanya berubah menjadi Ikatan Rohaniwan-Rohaniwati Indonesia di Kota Abadi (IRRIKA) – Roma.

Tahun 1986, Anggaran Dasar tahun 1955 diperbaharui menjadi Pedoman IRRIKA. Sejak tahun 1989 diadakan berkali-kali diskusi mengenai identitas, azas, visi dan tujuan dan disusulkan oleh sebagian besar anggota, agar Pedoma IRRIKA dibaharui dan diedarkan kepada semua anggota. Menjelang Milenium ketiga, Pengurus Inti IRRIKA secara resmi meminta kepada team jurist untuk mempelajari arsip-arsip yang ada, dan menyusun peraturan yang baru sebagai landasan paguyuban IRRIKA.

Ketua IRRIKA periode 2015-2016, Pastor Peter Pehan Tukan SDB dalam surat elektronik 4 September 2015 menjelaskan kepada PEN@ Katolik bahwa IRRIKA adalah wadah sambung rasa para imam, frater, suster agar para religius itu semakin bersatu dalam meniti panggilannya.

“Wadah ini sudah lama dibentuk di Roma dan menjadi ajang membina persaudaraan antarimam dan frater yang belajar di sini,” jelas imam kelahiran Lamatuka, Lebatukan, NTT, yang ditahbiskan di Lembata, 5 Mei 2003 itu. Di Roma saat ini, lanjut imam itu, jumlah imam, frater dan suster yang sedang belajar di Roma sebanyak 1.400 orang. “IRRIKA selalu menjalin komunikasi dengan mereka sehingga ada persekutuan yang bertujuan untuk meneguhkan panggilan sebagai imam, frater  maupun suster,” lanjut imam itu.

Kegiatan IRRIKA ada yang rutin dan tidak rutin. Mantan Kepala Paroki Yohanes Bosco Danau Sunter, Jakarta Utara, itu menjelaskan, kegiatan rutin adalah perayaan Natal, Paskah, Tahun Baru Bersama dan 17 Agustus, sedangkan kegiatan yang tidak rutin sangat beragam, misalnya tatap muka dengan para duta besar, atau dengan uskup dari Indonesia yang berkunjung ke Roma.

Imam SDB yang keempat di Indonesia itu mengatakan bahwa pada minggu keempat setiap bulan akan dirayakan Ekaristi Kudus berbahasa Indonesia secara bergilir di biara-biara atau komunitas. Pastor itu sedang juga merencanakan pelaksanaan seminar, diskusi atau pun sarasehan tentang isu tertentu yang sedang terjadi di Indonesia, dan “melalui  IRRIKA, seorang calon doktor bisa membahas tesisnya bersama-sama dengan rekan-rekan yang saat ini belajar di Roma.” (Konradus R Mangu)

DSCN1621

 

Pastor Peter Pehan Tukan SDB

Tinggalkan Pesan