7-Sept-KWI-R-702x336

PEKAN BIASA XXIII (H)

Santa Regina

Bacaan I: Kol. 1:24–2:3

Mazmur: 62:6-7.9; R:8a

Bacaan Injil: Luk. 6:6-11

Pada suatu hari Sabat, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: ”Bangunlah dan berdirilah di tengah!” Maka bangunlah orang itu dan berdiri. Lalu Yesus berkata kepada mereka: ”Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: ”Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.

Renungan

Bukan rahasia lagi bahwa semenjak Israel pulang dari masa pembuangan—penghukuman Tuhan dahulu ke negeri asing—jadi budak … Israel mulai membangun kembali kehidupan mereka sebagai bangsa pilihan Tuhan. Ada ketakutan yang terbentuk sejak masa itu: ”Takut Tuhan marah lagi dan menghukum lagi, makanya kita harus patuhi hukum-hukum-Nya mulai sekarang … sampai sedetail mungkin, jangan sampai Tuhan marah lagi dan membuang Israel terulang kembali.

Dengan alasan itulah kita bisa memahami kenapa para Ahli Taurat itu menjadi sangat kesal dan marah pada tindakan Yesus yang menyembuhkan orang sakit di hari Sabat—sudah diberi kesempatan untuk mengajar di Sinagoga (padahal tidak semua orang pada waktu itu bisa mengajar di Sinagoga), tapi kok malah begini. Atau dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, mereka sudah tahu tentang tindakan dan ajaran Yesus yang berbeda itu … dan sekarang mereka undang Yesus untuk bisa membuktikan sendiri bahwa ini orang memang benar-benar kacau!! Jebakan terencana pun dibuat karena mereka sudah membenci lebih dulu kepada Yesus, dan jebakan mereka berhasil!!

Bahkan sampai sekarang pun gambaran situasi seperti yang dialami oleh Yesus kala itu pun sering kali kita alami sekarang ….

Pasti ada saja orang-orang yang benci sama kita, pasti tidak pernah absen orang yang hujat kita, kalau kita mengerjakan sesuatu, pasti muncul saja orang-orang yang menyusun rencana jahat dalam hidup kita …. Sebaik apa pun kita, sehebat apa pun kita, pasti ada aja orang-orang yang ingin menjelekkan kita. Kuncinya adalah kita tetap teguh dan yakin bahwa apa yang kita lakukan adalah sesuai dengan kehendak Allah sehingga kita tidak takut menghadapi apa pun.

Ya Bapa, berkatilah aku agar aku memiliki kekuatan dalam menghadapi aneka tan­tangan sebagai murid-murid-Mu. Amin.

 

 

Tinggalkan Pesan