banner-bksn

PEKAN BIASA XXIII (H)

Hari Minggu Kitab Suci Nasional
Santo Thomas Tzugi

Bacaan I: Yes. 35:4-7a

Mazmur: 146:7.8-9a.9bc-10; R: 1

Bacaan II: Yak. 2:1-5

Bacaan Injil: Mrk. 7:31-37

Sekali peristiwa Yesus meninggalkan daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu. Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik napas dan berkata kepadanya: ”Efata!” artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceritakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. Mereka tak­­jub dan tercengang dan berkata: ”Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.”

Renungan

Mengapa Yesus memakai kontak fisik dalam penyembuhan kali ini dan mengapa Yesus memisahkannya dari orang banyak? Ada dua alasan, pertama melalui jamahan dan penggunaan ludah, Yesus masuk ke dalam dunia mental orang itu dan memulihkan keyakinannya atau membangkitkan imannya. Inilah cara Tuhan menyembuhkan, iman dibangkitkan terlebih dahulu, dengan sentuhan-sentuhan dan setelah itu barulah dilakukan penyembuhan.

Kedua, Yesus melakukan penyembuhan dengan sentuhan karena Yesus ingin menjalin sebuah hubungan pribadi dengan orang tuli dan gagap itu. Kondisi dari orang ini sangat kasihan sebab orang ini tidak dapat bergaul dalam masyarakat. Mereka yang buta masih bisa berkomunikasi dengan masyarakat sebab bisa mendengar dan berbicara. Mereka yang tidak punya tangan masih bisa berkomunikasi dengan masyarakat. Tetapi, orang yang tuli dan gagap ini sulit berinteraksi dengan masyarakat. Ketika orang berbicara dia tidak mengerti, dan ketika dia berbicara orang juga tidak mengerti. Ia benar-benar terasing dari masyarakat.

Orang tuli dan gagap ini bukan hanya disembuhkan dari sakitnya, namun dia juga memiliki sebuah hubungan dengan Tuhan Yesus. Kita kadangkala hanya berdoa ketika butuh sesuatu dari Tuhan. Kita kerap lupa bahwa yang utama adalah hubungan pribadi dengan Dia Sang Juru Selamat. Bagaimanakah hubungan pribadi kita dengan Tuhan?

Ya Bapa, semoga aku bisa semakin hari menjalin hubungan yang dekat dengan Putra-Mu sehingga mengalirlah aneka rahmat untuk keselamatanku. Amin.

 

Tinggalkan Pesan