Peduli Ciptaan (1)

Sebelum membaca sebuah puisi, Gunawan Budi Susanto menekankan pentingnya hubungan yang baik antarpribadi yang berbeda latar belakang. “Saya membayangkan kalau di negeri kita hubungan antarpribadi berbeda agama, berbeda suku, berbeda keyakinan itu macam hubungan Kiai Budi dan Romo Budi, negeri ini aman, negeri ini damai, negeri ini nyaman ditempati.

Dan sebuah puisi pun dia lantunkan oleh budayawan yang dikenal dengan sapaan Kang Putu itu dalam acara menyambut Hari Doa se-Dunia untuk Peduli Ciptaan pertama tanggal 1 September 2015, hari doa sedunia yang dicanangkan oleh Paus Fransiskus. Acara 30 Agustus 2015 malam itu digelar di jembatan depan pastoran Gereja Santo Fransiskus Xaverius Kebon Dalem Semarang.

Pastor Aloys Budi Purnomo Pr (Romo Budi) yang merupakan Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang, yang melaksanakan acara itu menjelaskan, acara itu disiapkan secara spontan dan tanpa panitia yang rumit, “mengalir dari hati yang rindu supaya bumi kita dijaga dari kehancuran.”

Selain puisi Gunawan Budi Susanto, acara itu diisi juga dengan penampilan grup rebana Assalam dari Jagalan, tarian Nusantara dan persembahan lagu dari OMK, lagu dari mahasiswa Universitas Wahid Hasyim, tarian oleh penari sufi dari Pondok Pesantren Al Ishlah yang dipimpin Kiai Budi Harjono (Kiai Budi) dan puisi dari Pastor Budi.

“Duduk bersama di atas (jembatan) kali yang kotor untuk mendoakan bumi, dengan segala harapan, kita semua membangun masa depan yang baik. Dibutuhkan keutuhan ekologi ciptaan yang dari waktu ke waktu, menjadi tanggung jawab kita. Maka, kita harus memberi waktu, dan malam inilah kita mempersembahkan waktu kepada Tuhan yang Mahaesa untuk mendoakan alam semesta ini,” demikian bunyi puisi yang digarap dan dibacakan sendiri oleh Pastor Budi di atas jembatan itu.

Alam diciptakan indah, tegas Pastor Budi sebelumnya, tetapi hancur karena keserakahan, dan pemanasan global pun terjadi, musim rusak, dan kali banjir. “Semakin hari dunia semakin mengerikan untuk anak cucu kita. Bagaimana mereka akan hidup kalau alam dirusak? Masa depan anak cucu kita berada dalam ancaman.”

Seraya mengajak semua orang untuk bersama-sama menjaga alam, pada acara itu Pastor Budi mengatakan, “Dengan penuh keyakinan dan iman, kita semua bersama dengan semua orang, didorong dan diberi motivasi untuk menjaga alam yang hancur  ini, dengan semua saudari-saudara kita dari segala kelompok dan golongan apapun. Tidak pandang bulu agama.”

Kyai Budi dalam orasi buminya mengatakan bahwa di banyak tempat ia sering menyampaikan pentingnya mencintai bumi, “karena bumi ini anugerah yang menumbuhkan, yang untuk mengais rejeki dibagi bersama,” katanya.

Ia mengaku tersentuh dengan acara malam itu, namun hal itu harus diimbangi dengan bertindak. “Kalau itu sobek ibarat baju, kita harus menjadi penjahit. Kalau ada yang rusak, kita yang membenahi,” katanya.

Ia pun memberi apresiasi bahwa acara itu “indah meski sederhana.” Dalam kesederhanaan, ia mengajak yang hadir supaya memetik hikmah dari acara itu dan memulihkan alam seperti dulu yang baik. Ia berkisah tentang masa kecilnya yang sering menjala ikan di sungai dan ikut bertani di sawah. “Misi agama di mana-mana punya peranan mengubah kebiadaban menjadi peradaban,” katanya.

Malam itu, Kyai Budi membagikan sejumlah caping sebagai lambang semua keragaman yang ada mengarah ke satu titik, yakni Tuhan, dan berharap agar Indonesia bisa dihuni oleh anak-cucu di belakang hari tanpa konflik, “tanpa pertengkaran dan tanpa kerusakan-kerusakan yang berarti.” (Lukas Awi Tristanto)

Peduli Ciptaan (3)

Peduli Ciptaan (4)

Peduli Ciptaan (6)

Keterangan foto dari atas ke bawah: Orasi oleh Kiai Budi, Tarian Sufi diiringi tiupan Saxofon oleh Pastor Budi, grup rebana Assalam dari Jagalan, dan pembacaan puisi oleh budayawan Kang Putu

1 komentar

Tinggalkan Pesan