DSC_0542

Oleh Suster Maria Andrea Desi OP

———————————————–

Regula Santo Agustinus adalah regula yang diperuntukkan bagi para biarawan-biarawati yang antusias dan memiliki tujuan untuk menjadi anak Allah yang kudus. Sekitar 800 tahun yang lalu, pendiri Ordo Pewarta (OP) Santo Dominikus memilih regula itu, karena sesuai untuk kehidupan Ordo Pewarta yang kontemplatif aktif.

Dalam rangka Tahun Hidup Bakti dan Pembukaan Tahun Yubileum 800 Tahun Berdirinya Ordo Pewarta, Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia menyelenggarakan studi bersama untuk mendalami Regula Santo Agustinus.

Sebanyak 75 suster OP dari berbagai komunitas di Indonesia datang ke rumah retret Santo Dominikus Rawaseneng tanggal 8 Agustus 2015 untuk mendengarkan masukan dari Uskup Bandung Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC yang juga uskup untuk kongregasi itu.

Ketika Santo Dominikus menghadap Paus Innocentius III untuk mengesahkan pendirian Ordo Pewarta, paus itu berjanji akan menetapkan pendirian itu dengan syarat bahwa dasar konstitusi ordo itu sesuai dengan aturan-aturan yang telah diterima Gereja. Dominikus lalu pulang ke Toulouse dan mengumpulkan saudara-saudaranya. Dengan keyakinan penuh mereka lalu memilih Regula Santo Agustinus sebagai dasar konstitusi mereka. Pendirian Ordo Pewarta disahkan oleh Paus Honorius III di tahun 1216, karena Paus Innocentius III meninggal tahun 1206.

Mgr Subiano menjelaskan, isi Regula Santo Agustinus itu sangat singkat, bahkan bisa dibaca dalam waktu 15 menit. “Namun regula itu sangat kaya, regula itu mengatur keinginan dan kebutuhan manusia, dari urusan pakaian sampai makanan.”

Isi regula itu dilatarbelakangi oleh kehidupan pribadi Santo Agustinus yang digambarkan sebagai pribadi penuh nafsu dan naluri, yang harus diberi batasan dan diolah dengan benar, “karena semakin seseorang mengikuti nafsu dan naluri semakin dia jauh dari Tuhan, dan semakin seseorang mampu mengendalikan naluri dan nafsunya semakin dia dekat dengan Tuhan dan hidupnya memancarkan terang Allah,” Mgr Subianto menjelaskan.

Menurut uskup yang lahir di Bandung 14 Februari 1968 itu, inti dari dua pondasi Regula Santo Agustinus, yang juga digunakan oleh Ordo Salib Suci, adalah sama yaitu Hukum Kasih. Yang pertama terdapat dalam Kitab Ulangan 6:6 yaitu “mengasihi Allah dengan segenap jiwa, tenaga dan kekuatan,” dan kedua dalam Injil Matius 22:37 yang berbunyi, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Inti dari kedua dasar itu adalah gairah cinta pada Allah (Passion for Christ). “Santo Agustinus ingin menggaris bawahi bahwa yang paling penting dalam hidup panggilan istimewa ini adalah mengasihi dan mengandalkan Tuhan dalam segala segi kehidupan,” kata uskup itu.

Uskup berharap agar pewartaan para suster bukanlah pewartaan diri sendiri, dan “ketika kita mengasihi Allah, seperti yang dikatakan oleh Paus Fransiskus, perjumpaan kita dengan-Nya selalu membawa kebahagiaan dan sukacita.” Juga diharapkan agar kasih kepada Allah diwujudkan secara konkret dengan mengasihi sesama. “Jangan berani mengatakan mengasihi Allah tetapi dalam hidup sehari-hari tidak memiliki kasih kepada sesama saudari dalam komunitas,” tegas uskup itu.

Tujuan hidup hidup dalam biara, lanjut uskup, adalah hidup harmonis sehati sejiwa menuju Allah yang oleh Santo Agustinus dikatakan “Cor unum et anima una.” Uskup melihat bahwa bahasanya berbeda tetapi intinya sama, yakni menjelaskan bahwa menuju Allah sebagai tujuan hidup berarti bergerak menuju Allah yang tidak jauh dari diri kita. “Allah ada dalam hati kita. Maka tidak mengherankan jika seseorang yang mencari atau bergerak menuju Allah harus selalu kembali ke hatinya yang paling dalam, tempat di mana Allah bertahta.”

Karena tujuan kita adalah Allah, tegas Mgr Subianto, maka Santo Agustinus menekankan bahwa “tidak ada milik pribadi bagi biarawan-biarawati, semua adalah milik bersama, karena satu-satunya harta kita yang paling berharga adalah Tuhan.” Itulah sebabnya, lanjut uskup, Santo Agustinus berseru kepada Tuhan … “hatiku tidak akan pernah damai sebelum beristirahat dalam Engkau dan ke sanalah hatiku senantiasa terarah.” Kasihnya pada Tuhan yang begitu dalam tergambarkan lewat kata-katanya yang sangat dikenang, “Terlambat sudah hatiku mencintai-Mu, Tuhan.”

Bagi Agustinus, masuk biara adalah keuntungan. Maka, Mgr Subianto minta kepada suster-suster yang mencari keuntungan material untuk “sadarlah dan cepatlah bertobat karena Kerajaan Allah sudah dekat, sebab yang harus menjadi keuntungan bagi kita adalah keuntungan spiritual, bisa berdoa ofisi dan mengikuti perayaan Ekaristi setiap hari.” Uskup membandingkan dengan umat di pedalaman yang kadang hanya bisa merayakan Ekaristi sekali dalam sebulan atau lebih lama lagi.

Uskup juga meminta para suster untuk bersyukur karena memiliki keberuntungan sosial. “Dalam hal yang sederhana, misalnya karena kita ini suster atau biarawan-biarawati, maka kita mendapat kesempatan bertemu uskup, bertemu Paus atau duduk bersama sesama yang berpengaruh. Ini juga saya hayati secara pribadi. Memang banyak keuntungan sosial saya dapatkan sejak menjadi biarawan OSC, apalagi setelah menjadi uskup. Kalau waktu di seminari saya selalu makan paling belakang karena badan saya paling kecil, sekarang saya selalu menjadi yang pertama karena saya uskup, meskipun badan saya tetap yang kecil,” cerita uskup yang disambut  gelak tawa para suster.

Uskup juga mengingatkan bahwa Santo Agustinus mengingatkan agar biara berguna untuk semua orang. “Bukan sebagai tempat orang miskin mencari makan dan bukan juga hanya sebagai tempat orang kaya menyombongkan diri dan berbuat dosa. Karena bagi Agustinus, biara adalah tempat untuk mencari Tuhan dan buahnya haruslah tampak dalam kerendahan hati, mawas diri, dan tahu diri, menghargai sesama sebagai bait Allah dan senantiasa memeriksa kebersihan batin.”

Sepanjang hidupnya Santo Dominikus menghayati dan menghidupi Regula Santo Agustinus. “Dominikus adalah pribadi yang sangat bertekun dalam doa, bahkan dikatakan ia bisa berdoa semalam-malaman di gereja. Seluruh waktunya di siang hari digunakan untuk pelayanan, untuk menyebarkan buah-buah dari doanya, sehingga tercapai tujuan Ordo, yaitu keselamatan jiwa-jiwa,” kata biarawan OSC itu.

Uskup itu juga menjelaskan bahwa kehidupan bersama para saudaranya dalam komunitas dijalani dengan penuh kasih dan taat melaksanakan aturan hidup bersama yang telah ditetapkan. “Maka para suster pun hendaknya menghayati regula ini seperti Santo Dominikus menghayatinya, agar semangat Santo Dominikus itu tetap dirasakan lewat kehadiran para suster OP di Indonesia,” demikian harapan Mgr Subianto.

Regula Santo Agustinus adalah cermin diri maka harus dibaca dan diolah. “Bagi yang berhasil melakukannya, bersyukurlah kepada Allah, tetapi yang belum, bertobatlah.” Uskup mengatakan demikian karena dia yakin bahwa dengan menghayati Regula Santo Agustinus para suster OP pasti akan semakin membawa para suster OP pada kepenuhan sebagai seorang Dominikan “layaknya pendiri Ordo Pewarta yang pertama-tama dipanggil untuk hidup kontemplatif dan kemudian membagikan buah-buah kontemplasinya kepada sesama melalui tugas pelayanan.”***

Tinggalkan Pesan