14-Agsts-KWI-R-702x336

PEKAN BIASA XIX (H)

Peringatan Wajib Santo Maximilianus Maria Kolbe, Imam, Martir.

Bacaan I: Yos. 24:1-13

Mazmur: 136:1-3.16-18.21-22.24

Bacaan Injil: Mat. 19:3-12

Pada suatu hari, datanglah orang-orang Farisi kepada Yesus untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: ”Apakah diper­bolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?” Jawab Yesus: ”Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Kata mereka kepada-Nya: ”Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan istrinya?” Kata Yesus kepada mereka: ”Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Barang siapa menceraikan istrinya, kecuali karena zina, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zina.” Murid-murid itu berkata kepada-Nya: ”Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin.” Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: ”Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.”

Renungan

Mengingat kembali ke masa lalu, itu penting. Yosua mengingatkan bangsa Israel akan sejarah hidup mereka. Mereka sebenarnya termasuk bangsa yang kecil, lemah, dan pengembara. Mereka dapat memasuki Tanah Terjanji bukan karena kekuatan mereka, bukan oleh pedang dan panah mereka, tetapi karena bantuan Tuhan. Tuhanlah yang berperang dan mengalahkan musuh mereka. Tanah air mereka adalah anugerah Tuhan juga, bukan atas jasa-jasa mereka. Kota yang mereka duduki, bukan mereka yang membangunnya. Kebun-kebun yang mereka nikmati hasilnya, bukan mereka yang menanaminya. Mereka harus bersyukur atas anugerah Tuhan ini.

Dalam hidup kita masing-masing selalu ada juga anugerah Tuhan: anak, pekerjaan, talenta, kekayaan, kesehatan, dsb. Kita perlu bersyukur karenanya. Tidak semuanya melulu karena usaha kita. Panggilan hidup selibat dalam Gereja merupakan anugerah Tuhan juga. Tapi, tidak semua orang mengerti akan panggilan menjadi imam, bruder, dan suster ini. Tidak semua orang bisa menerima akan panggilan ”tidak kawin demi Kerajaan Allah” ini. Akan tetapi, Gereja membutuhkan panggilan khusus ini.

Jika kita sendiri tidak memiliki panggilan khusus ini, marilah kita mendoakan agar ada orang-orang yang mau menanggapinya. Seraya itu, marilah kita menghidupi panggilan Tuhan dalam hidup kita masing-masing, entah dalam perkawinan atau hidup selibat; dan mensyukuri anugerah-Nya. Janganlah kita tegar hati.

Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengerti anugerah-Mu dalam hidupku. Amin.  

 

Tinggalkan Pesan