Semua Sr

Suasana Pertapaan Para Rahib Ordo Trappist (OSCO) di Pertapaan Santa Maria Rawaseneng, Temanggung, Jawa Tengah, tetap hening dan perayaan Ekaristi tetap khidmat meski sebanyak 75 suster datang untuk merayakan pesta syukur hidup membiara beberapa suster di antaranya.

Masih dalam suasana khidmat, para pestawati maju ke depan altar seraya membawa lilin bernyala. Di situ mereka berdoa bersama, menyerahkan diri kepada Hati Kudus Yesus dan Hati Maria yang Tak Bernoda.

Suasana bertambah syahdu penuh syukur saat para rahib OSCO dan suster dari Ordo Pewarta (OP) mulai bernyanyi dalam Perayaan Ekaristi Syukur Hidup Membiara bertema “Aku memuliakan Tuhan selama aku hidup dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada” yang dipimpin Uskup untuk Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia, yang juga Uskup Bandung, Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC, di kapel yang dihiasi rangkaian bunga.

Di kapel itu, dalam Misa Pesta Santo Dominikus tanggal 8 Agustus 2015, Provinsial Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia Suster Anna Marie OP memukul sebuah gong seraya berkata, “dengan bantuan rahmat Tuhan, Perayaan 800 Tahun Ordo Pewarta kami buka,” dan tepuk tangan pun tidak ada demi menjaga suasana tetap tenang dan khidmat.

“Sungguh panggilan Tuhan ini sangat misteri, penuh makna mendalam. Rahmat kesetiaan sungguh menyertai panggilan suster. Kita bersama mensyukuri indahnya mengikuti Yesus dalam kehidupan kita, membawa sukacita Injil yang senantiasa baru, dan semoga sukacita yang dibagikan bagi sesama menjadi berkat. Kita saling mendoakan agar langkah panggilan kita masing-masing semakin mantab dan Tuhan memberkati.”

Menurut Suster Anna OP, perayaan itu adalah hadiah dari Tuhan melalui Santo Dominikus. “Kita akan merayakan 800 tahun berdirinya OP di tahun 2016, dan hari ini, saat ini, Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia membuka Tahun Yubileum Indonesia. Hal yang sama dilakukan di negara-negara lain sedunia, dalam Keluarga Dominikan.”

Perayaan tahun Yubileum itu, jelas Suster Anna, mengangkat tema “Send to Preach the Gospel”  (diutus untuk mewartakan Injil). Yubileum 800 tahun, yang bertujuan untuk tumbuh bersama dalam persaudaraan sehati sejiwa melalui pertobatan, lanjut suster itu, merupakan kesempatan untuk memperbaharui diri dalam pewartaan, bersyukur karena waktu yang lalu.

Saat ini dan di saat yang akan datang, tegas Suster Anna, adalah waktu penuh rahmat dan penuh pengharapan. Oleh karena itu, provinsial itu berharap seluruh anggota ordo terlibat aktif dalam gerak kongregasi dan serangkaian kegiatan, serta “berani berharap tanpa rasa takut dalam situasi apa pun karena kita terpanggil dan diutus untuk mewartakan Injil Tuhan.”

Menandai pembukaan perayaan itu, Pastor Andreas Kurniawan OP menyalakan lilin simbol 800 tahun Ordo Pewarta, Suster Gemma OP menyalakan lilin simbol suster-suster misionaris dari Kongregasi Suster-Suster dari Keluarga Kudus di Neerbosch, Nijmegen, Belanda, dan Suster Lusia OP menyalakan lilin simbol kemandirian kongregasi suster-suster itu.

Suster-suster yang merayakan pesta syukur hidup membiara adalah Suster Agnes OP (60 tahun profesi), Suster Hyacintha OP dan Suster Agustine OP (50 tahun profesi), serta Suster Helena OP, Suster Zita OP, Suster Yovita OP, dan Suster  Fransisca OP yang semuanya berpesta perak (25 tahun profesi).

“Kita kaum religius dipanggil untuk berubah. Ketika para suster menggunakan cicin melingkar di jari manis, itu simbol bahwa para suster telah mengikatkan diri dengan Yesus yang tersalib. Perubahan bukan pada hitungan waku, tetapi pada kualitas hidup, dan semua itu telah terjadi dan terbukti bagi para suster pestawati yang sekarang merayakan hidup baktinya dalam perayaan syukur hidup membiara,” kata Frater Aris Kung OP.

Kemudian, Mgr Subianto melanjutkan Perayaan Ekaristi. Dalam pewartaan, kata uskup itu dalam homilinya, hidup bersama sehati-sejiwa, selalu penuh syukur dan sukacita adalah sarana penting dalam pewartaan. “Hidup ini sudah berat, jangan lagi diperberat dengan bersungut-sungut, mengeluh, merasa paling menderita, dan teraniaya. Marilah mengusahakan hidup dengan penuh syukur dan bahagia.”

Sebelum Perayaan Ekaristi itu, Mgr Subianto menjadi pembicara dalam studi bersama untuk menghayati hidup bakti. Saat itu, uskup mengajak para suster untuk kembali pada semangat pendiri yaitu semangat Santo Dominikus lewat Regula Santo Agustinus, “hidup yang elegan dalam kesederhanaan dan belas kasih demi kemuliaan Allah.”

Berdasar hukum kasih, kata uskup, hidup membiara menjadi lebih harmonis menuju hidup sehati-sejiwa dalam Tuhan, sehingga pewartaan dapat optimal dalam pelayanan hidup berkomunitas dan karya. “Pola hidup bersama adalah Allah Tritunggal yang merupakan kesempurnaan hidup dalam saling mengenal dan mencintai, yang intisarinya dari hidup bersama Dominikan, yaitu hidup sehati-sejiwa dalam Tuhan,” kata uskup.

Inspirasi yang lain, menurut Mgr Subianto, adalah sepuluh perintah Allah. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu,” adalah perintah pertama yang menumbuhkan keutamaan “gairah cinta pada Allah” (passion for Christ).

Sedangkan “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” sebagai perintah kedua menumbuhkan keutamaan “gairah cinta pada sesama” (passion for others), dan “Kasihilah seorang akan yang lain sama seperti aku telah mengasihi kamu, hendaklah kamu mengasihi satu sama lain,” sebagai perintah baru menumbuhkan keutamaan “gairah cinta pada komunitas” (passion for community). Maka, dalam hidup bersama dan pelayanan, para suster selalu “keluar dari passion for Christ, menuju passion for others, melalui passion for community,” jelas uskup.

Menurut Uskup Bandung, keuntungan paling berharga sebagai religius bagi para suster adalah keuntungan spiritual, “maksudnya kedekatan dengan Tuhan sebagai jalan pertobatan, karena Allah adalah satu-satunya andalan dalam hidupnya.”

Keuntungan lain secara jasmani atau manusiawi, serta keuntungan sosial, bisa bergaul lebih luwes dengan banyak orang, kata Mgr Subianto. “Hidup membiara terbuka bagi orang miskin maupun kaya, maka para suster hendaknya mampu bersikap rendah hati, mawas diri, tahu diri, dan tahu batas, supaya kehadirannya sungguh mewartakan misteri Kristus.”

Dalam hidup berkomunitas, para suster juga diajak bertekun dalam doa dengan hati dan  menguasai diri dengan berpantang dan puasa. “Dari kedalaman hati karena kedekatannya dengan Allah,  hidup akan penuh syukur meskipun menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan, yang semestinya diterima sebagai bagian ulah tapa, supaya terhindar dari sikap bersungut-sungut, jengkel, dan iri.”

Hidup dan karya hendaknya bersumber dari passion for Christ, menuju passion for others, melalui passion for community, kata Mgr Subianto seraya menegaskan bahwa kepenuhan dari kesuburan cinta akan nampak dalam karya yang dilaksanakan dengan sense of belonging, sense of responsibility, dan passion untuk kebahagiaan bersama.*** (Suster Charlie OP)

 

Tinggalkan Pesan