20150809_191723

Dalam rangka mempersiapkan acara pemberkatan Patung Maria Assumpta di kompleks Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA), yang akan dilakukan 15 Agustus 2015, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ishlah Tembalang Semarang KH Amin Maulana Budi Harjono mengatakan dalam tausiahnya bahwa “Rukun adalah suasana surga yang diturunkan Tuhan di bumi.”

Kyai Budi  berbicara dalam Silaturahmi dan Ramah Tamah Tim Pengelola GMKA bersama pemerintah Kecamatan Ambarawa dan Tokoh Masyarakat Kerep di Rumah Kaca Kompleks GMKA, 9 Agustus 2015.  Acara itu dihadiri oleh Camat Ambarawa, lurah, RW dan RT, tokoh FKUB, serta masyarakat setempat.

Kyai Budi mengatakan, semua makhluk adalah keluarga besar di alam semesta ini, semua berasal dari sumber yang sama, “sehingga ketika kita memandang everything in the world, apa pun di alam semesta, semua melambangkan tentang Dia.

Keragaman, harap kyai itu, hendaknya tidak dipandang sebagai dualitas tetapi sebagai kesatuan. “Hanya pencipta bisa memahami cara pandang ini, dan kita tidak bisa menepis keragaman karena itu adalah kehendak Tuhan sendiri.”

Yang dibutuhkan, lanjutnya, adalah memahami keragaman itu bagai taman yang dirintis di Gua Maria itu. “Setiap keberadaan di taman ini, ada banyak pohon yang tumbuh, tetapi setiap pohon memiliki ranting. Ranting-ranting pohon-pohon itu satu dengan yang lain tidak bergesekan dan bertubrukan, karena alam mengajarkan. Ranting-ranting pun cerdas mencari ruang untuk menggapai satu cahaya matahari,” katanya.

Sebagai umat Muslim, Kyai Budi memaknai gambaran itu sebagai hidup bersama di Indonesia, “sebagai ayat kauniyah, ayat alam, yang mengajari kita, sehingga warga Indonesia, nusantara ini, sangat berbeda dengan, misalnya Timur Tengah yang bentrok, kemudian Barat yang individualis radikal.”

Uskup Agung Semarang Mgr Johannes Pujasumarta lalu menggenggam erat tangan Kyai Budi dan membacakan salah satu puisi karangan kyai itu yang berjudul “Kugandeng tanganmu” yang diambil dari buku kumpulan puisi “Pusaran Cinta.”

Para penari sufi yang terdiri dari para santri Pondok Pesantren Al Ishlah kemudian memperagakan sebuah tarian yang diiringi lagu Nderek Dewi Mariyah dengan lengkingan saksofon tiupan Pastor Aloys Budi Purnomo Pr. Para penari itu kemudian  beranjak dari rumah kaca menuju depan patung Maria Assumpta.

Mgr Pujasumarta mengatakan sangat bersyukur bisa hadir pada kesempatan itu dan merasa ada kedamaian dan cinta. “Dan cinta itulah yang mempersatukan kita,” kata Mgr Pujasumarta seraya menambahkan, “Kalau kita ingin membangun dunia, kalau kita ingin membangun Indonesia masa depan yang lebih baik, kita harus mau membangun persaudaraan sejati berdasarkan cinta.”

“Kita bisa membangun dunia baru berbekal cinta. Kami ingin bersama-sama dengan Anda menjadikan tempat ini sumber inspirasi, sehingga orang menjadi semakin mampu mendengar nyanyian cinta dari rumput-rumput yang bergoyang, dari angin semilir, daun-daun yang bergesekan, dari deru motor, dan kendaraan di jalan-jalan, dari teriakan anak-anak yang datang ke sini,  dari perjumpaan sukma-sukma yang datang ke tempat ini,” kata Mgr Pujasumarta.

Uskup Agung Semarang lalu memohon kepada masyarakat di sekitar GMKA supaya bersama-sama menjaga tempat itu dan menjadikannya tempat penuh cinta. “Saya sungguh-sungguh bersyukur kepada Anda yang hadir di tempat ini. Ceritakanlah kepada teman-teman Anda. Ada suatu pengalaman yang indah bagi saya, pengalaman yang saya temui di tempat ini, dari Gua Maria Kerep Ambarawa ini, kami sebarkan kasih cinta melalui angin ke seluruh dunia ini,” kata Mgr Pujasumarta.

Camat Ambarawa Haris Pranowo mengajak masyarakat yang ada di sekitar GMKA supaya bersyukur atas keberadaan GMKA itu. “Sungguh, saya dan keluarga Muslim yang ada di Ambarawa, mari kita syukuri keberadaan Gua Maria Kerep ini sebagai salah satu aset, sebagai salah satu peluang dan berkah bagi masyarakat dan insya Allah kalau kita memang bisa memposisikan diri dengan sebaik-baiknya, bisa menjadi tuan rumah yang sebaik-baiknya, nanti banyak orang akan datang,” katanya.

Menurutnya, dari sisi ekonomi, keberadaan patung Maria Assumpta merupakan peluang besar bagi warga sekitar Gua Maria tersebut. “Oleh karena itu, kita harus memikirkan betul untuk bersama-sama menjadi tuan rumah yang baik bagi saudara-saudara kita yang akan berkunjung ke sini,” katanya.

GMKA melalui bidang pengabdian masyarakat selama ini juga telah menggelar aksi sosial seperti pengobatan gratis, sunatan massal, dan donor darah.(Lukas Awi Tristanto)

20150809_205340

Sufi GMKA

 

Tinggalkan Pesan