DSCN1707

Dalam hidupnya, Aloysius Benedictus Mboy telah mengabdikan seluruh hidupnya sebagai dokter, prajurit dan pamong praja. Tugas yang dilakoni ini awalnya bukanlah langka yang dijalani oleh orang-orang Flores pada umumnya, yakni memilih hidup sebagai pelayan Tuhan atau pastor dan guru. Namun, selain melakukan tugas-tugas pelayan masyarakat itu, Ben Mboy menjadi pribadi yang selalu membawa kebaikan, atau dalam bahasa iman, pribadi yang ‘sakramen’.

Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo berbicara dalam perayaan Ekaristi 40 Hari Mengenang Kepergian Ben Mboy di Gedung Yustinus Universitas Atmajaya, Jakarta, 5 Agustus 2015. Mantan Gubernur NTT periode 1978-1988 itu dipanggil Tuhan tanggal 23 Juni 2015.

Uskup Sorong Mgr Hilarion Datus Lega, Uskup Pangkalpinang Mgr Hilarius Moa Nurak SVD, Vikep KAJ Pastor Andang Binawan SJ dan tiga imam lain menjadi konselebran Misa yang dipimpin oleh Mgr Suharyo dan dihadiri sekitar 800 orang itu, sebagian besar adalah masyarakat NTT yang berdomisili di Jabodetabek. Hadir juga Erna Witular (adik dari Nafisah Mboy), Sony Keraf, dan anggota DPR RI Beny K Harman.

Sebagai seorang pribadi, kata Mgr Suharyo, sesungguhnya Ben Mboy dipakai oleh Tuhan untuk menyampaikan firman tentang kebaikan kepada semua orang melalui bidang pelayanan. “Maka pribadi yang demikian adalah sebagai suatu sakramen. Sakramen memiliki makna mendasar sebagai tanda untuk menghadirkan rahmat Allah di tengah-tengah dunia,” kata uskup agung itu.

Ben Mboy yang dilahirkan di Ruteng, NTT, 22 Mei 1935 menikah dengan Nafsiah Mboy. Setelah meniti karier sebagai dokter, dia masuk dinas ketentaraan Trikora (Irian Barat). Setelah kembali dari sana, ayah tiga anak itu menjadi gubernur NTT selama dua periode (1978-1988). “Sebagai pribadi yang senantiasa melayani masyarakat,  Ben Mboy juga adalah pelaku firman Allah dalam kehidupan Kristiani,” kata Mgr Suharyo.

Mengenang sosok Ben Mboy dalam Misa itu dimaknai oleh Uskup Agung Jakarta itu sebagai ungkapan syukur atas kehidupan yang dijalani Ben Mboy, atas kasih Allah sepanjang perjalanan hidupnya, dan atas proses pemurnian iman yang dialaminya karena berperan sebagai ‘sakramen’ atau pembawa rahmat kebaikan.

Meskipun secara fisik tidak lagi berjumpa  dengan Ben Mboy, kata Mgr Suharyo, keutamaan hidup yang ditunjukkannya menjadi teladan bagi umat Katolik. “Ben Mboy sesungguhnya telah menjadi pelaku firman, mengalami proses pemurnian dengan rahmat yang peroleh dari Tuhan. Semoga dia menjadi teladan kita.”

Mewakili keluarga, Mgr Datus Lega mengatakan, Ben Mboy sangat terkenal tegas dalam prinsip, sehingga ia dikaitkan dengan pepatah latin ‘Fortiter in re sed suaviter in modo’ (tegas dalam perkara, namun lembut dalam cara). “Sosok Ben Mboy itu tegas dalam prinsip, namun lembut dalam menyelesaikan suatu masalah. Ketangguhan dan pedoman hidup dijalani dengan tekun untuk melayani banyak orang,” kata Mgr Datus Lega yang sependapat dengan Mgr Suharyo bahwa Ben Mboy memiliki sikap yang ‘sakramen.’ (Konradus R Mangu)

Ben Mboy

pelepasan-jenazah-secara-militer-aloysius-benedictus-mboi Tribunnews Valdy Arief

foto bawah: dari Tribunnews.com

Tinggalkan Pesan