Eucharistic Youth Movement

Paus Fransiskus mendorong kaum muda untuk menemukan perdamaian dan sukacita yang Tuhan berikan kepada kita di tengah-tengah kesulitan hidup. Dorongan itu disampaikan saat menanggapi pertanyaan dari enam orang muda, satu di antaranya dari Indonesia.

Dalam audiensi di Aula Paulus VI Vatikan, 7 Agustus 2015, Bapa Suci meminta agar mereka menyambut dan mencari perdamaian serta sukacita sejati yang Tuhan berikan, dan memperingatkan mereka akan perasaan damai dan bahagia palsu yang berasal dari ‘musuh.’

Paus Fransiskus berdialog dengan kaum muda dari seluruh dunia yang datang mengikuti konferensi internasional dari Eucharistic Youth Movement (Gerakan Kaum Muda Ekaristi, EYM) di Roma, 4-10 Agustus 2015. Pertemuan dengan Bapa Suci itu adalah puncak dari Pertemuan Internasional EYM yang merayakan ulang tahun ke-100.

EYM adalah gerakan pembinaan Katolik berskala internasional untuk anak-anak dan kaum muda berusia 5-25 tahun yang berupaya hidup mengikuti teladan Yesus. Dimulai di Perancis tahun 1915 sebagai “Eucharistic Crusade” (Perajurit Ekaristi), kini EYM hadir di seluruh dunia dan mengakui lima model berbeda dalam menjalani pendidikan dan spiritualitasnya.

EYM adalah gerakan kaum muda terbesar kedua dalam Gereja Katolik. Yang pertama adalah Pramuka Katolik. Gerakan ini memiliki lebih dari 1,1 juta kaum muda di lima benua. EYM adalah cabang kaum muda dari Apostleship of Prayer (Kerasulan Doa), atau jaringan doa sedunia yang menerbitkan intensi-intensi doa bulanan dari Paus. Gereja mempercayakan gerakan itu kepada  Serikat Yesus.

Lebih dari 1.500 kaum muda dari sekitar 38 delegasi tingkat nasional, bersama 600 keluarga EYM Italia, hadir dalam pertemuan bertema “Supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu” (lih Yoh 15:9-17).

Dalam pertemuan itu, enam peserta – dari Italia, Indonesia, Argentina, Brazil, Taiwan, dan Perancis, mendapat kesempatan menyalami Paus secara pribadi dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang persoalan-persoalan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Paus pun menanggapi pertanyaan-pertanyaan tentang ketegangan dan pertikaian dalam keluarga dan masyarakat; tentang discernment (kecakapan memilah dan memilih secara jelas) antara perdamaian yang sejati dan yang palsu; tentang tanda-tanda harapan dalam dunia; dan tentang memperdalam hubungan kita dengan Yesus dalam Ekaristi.

Enam pertanyaan itu diajukan oleh kaum muda dari berbagai usia. Paus meminta agar pertanyaan disampaikan dalam bahasa asli mereka dan disiapkan penerjemah sehingga kaum muda lain bisa mengikuti. Sesudah memahami pertanyaan itu, Paus Fransiskus lalu menjawab dalam bahasa Italia.

Mengamati bahwa fokus pertanyaan-pertanyaan itu adalah ketegangan dan pertikaian, Paus  mengatakan ketegangan dan pertikaian menandakan bahwa kita hidup, kalau tidak kita akan tinggal di ‘kuburan.”

“Namun, apa jadinya kalau tidak ada ketegangan dan pertikaian dalam masyarakat, keluarga, dan sekelompok teman-teman? …Akan jadi kuburan, karena hanya kematian yang tidak memiliki  ketegangan dan pertikaian.” Di mana ada kehidupan, di sana ada ketegangan dan pertikaian, kata Paus, namun menyadari hal ini dan mencari perdamaian dengan Allah, kita bisa mengatasinya.

“Pertikaian,” kata Paus, “bagus bagi kita karena membantu kita memahami perbedaan dan menyadari pentingnya mencari penyelesaian.” Ketegangan, Paus menggarisbawahi, dapat membantu kaum muda untuk bertumbuh dan meningkatkan keberanian yang diperlukan untuk menghadapi tantangan. “Orang muda yang tak punya keberanian,” kata Paus, “adalah orang muda plin-plan, orang muda yang ‘tua’!

Selain mendorong kaum muda untuk berdialog setiap kali terjadi ketegangan, terutama dalam keluarga, Paus minta mereka selalu mengunjungi kakek-nenek mereka. “Jangan lupakan kakek-nenek, mengerti?” desak Paus seraya menekankan bahwa mereka itu kenangan dan kearifan masyarakat.

Sebelum mengakhiri, Paus Fransiskus menegaskan,  “Ada banyak keburukan di dunia. Namun, ada juga banyak hal indah, banyak hal baik, dan begitu banyak orang kudus  tersembunyi di antara umat Allah. Allah hadir. Allah hadir, dan ada begitu banyak alasan untuk berharap dan untuk maju. Beranilah, dan majulah!” (paul c pati berdasarkan Zenit.org dan Radio Vatikan)

?????????????

628x471 (1)

Tinggalkan Pesan