27-Juli-KWI-R-702x336

PEKAN BIASA XVII (H)

Beata Maria Magdalena Martinengo; Beato Titus Brandsma;
Santo Pantaleon; Santo Aurelius dan Santa Natalia

Bacaan I: Kel. 32:15-24.30-34

Mazmur: 106:19-20.21-22.23; R:1a

Bacaan Injil: Mat. 13:31-35

Sekali peristiwa Yesus membentangkan per­um­pamaan ini: ”Hal Kerajaan Surga itu seum­pama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”

Dan Ia menceritakan perumpamaan ini juga kepada mereka: ”Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.”

Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: ”Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.”

Renungan

James Bender, yang menulis buku How to Talk Well, pernah menyebut sebuah cerita tentang seorang petani jagung yang sering memenangkan penghargaan setiap tahun. Suatu ketika, seorang wartawan dari sebuah koran lokal mewawancarai petani itu untuk menggali rahasia kesuksesannya. Wartawan bertanya: ”Bagaimana Anda bisa berbagi benih jagung kepada tetangga Anda, lalu bersaing dengannya dalam kompetisi yang sama setiap tahunnya?” Jawab petani itu: ”Tidak tahukah Anda bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari jagung yang sudah berbuah dan membawanya dari satu ladang ke ladang yang lainnya? Jika tetangga saya menanam jagung dari varietas yang jelek, maka kualitas jagung saya akan menurun ketika terjadi serbuk silang. Karena itu, saya membantu tetangga saya untuk menanam jagung yang bagus pula.” Petani ini tahu hukum keterhubungan dalam kehidupan. Pesan cerita ini jelas: Bila ingin menikmati kebaikan, harus menabur kebaikan itu kepada orang-orang sekitar; bila ingin bahagia, harus menabur kebahagiaan itu untuk orang lain.

Kebaikan Tuhan yang dilukiskan dalam bentuk perumpamaan tentang biji sesawi hari ini juga harus berdampak luas. Tuhan memulainya di dalam diri Putra-Nya Yesus Kristus. Yesus itu ibarat serbuk sari kehidupan dunia, yang telah menerbangkan kebaikan Bapa-Nya kepada dunia, yang kemudian menghasilkan pribadi-pribadi bermartabat dan unggul, wajah lingkungan hidup yang asri dan bukan sebaliknya malah dieksploitasi. Gereja dipanggil untuk menerbangkan serbuk sari kehidupan itu di dunia kini. Dalam konteks Indonesia, tugas perutusan ini menjadi sangat kompleks, harus menjelajah pluralitas yang ada. Tetapi kita yakin, firman perutusan Yesus kepada para murid ”Aku menyertai kamu hingga akhir zaman”, selalu menjadi jaminan kita.

Tuhan, jadikanlah aku sarana untuk selalu menaburkan kebaikan-Mu di tengah dunia, kapan dan di mana saja aku berada. Amin.

 

Tinggalkan Pesan