24-Juli-KWI-R-702x336

PEKAN BIASA XVI (H)

Santo Kristoforus, Martir; Santa Kristina, Martir
Santo Sharbel Makhluf; Beato Yohanes Soreth

Bacaan I: Kel. 20:1-17

Mazmur: 19:8-11; R: Yoh. 6:64

Bacaan Injil: Mat. 13:18-23

Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya: ”Dengarlah arti per­umpamaan penabur itu. Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Surga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.”

Renungan

Ada empat tipe tanah yang digambarkan Yesus dalam perumpamaan-Nya tentang penabur. Keempat tipe tanah itu pada dasarnya menggambarkan empat tipe hati manusia dalam mendengarkan dan menanggapi Sabda Allah. Pertama, tanah di pinggir jalan. Tipe ini adalah tipe hati yang mendengar Sabda Allah sepintas saja, seperti kendaraan yang berlalu di pinggir jalan. Dalam diri mereka tidak ada tempat dan waktu untuk sedikit merenung dan memahami arti Sabda Allah itu. Kerapkali mereka hanya sibuk dengan pekerjaannya sendiri dan lupa memberi waktu bagi permenungan Sabda Allah. Kedua, tanah yang berbatu-batu. Tipe ini adalah tipe hati yang mau mendengar Sabda Allah hanya untuk sekadar menyenangkan telinga dan mulut. Sabda Allah bergaung merdu di telinga dan mulut mereka, tetapi tidak tampak dalam perbuatan mereka. Yang dikatakan lain, yang dibuat lain. Hari ini ya, besok tidak. Ketiga, tanah di tengah semak duri. Tipe ini adalah tipe hati yang senantiasa memenangkan pertimbangan manusiawi di atas tuntutan sabda Allah yang radikal. Sabda Allah memang sudah tertanam dalam hati mereka, namun mereka masih mudah berkompromi dengan kejahatan atas dasar pertimbangan rasional manusiawi.  Keempat, tanah yang baik. Tipe ini adalah tipe hati yang ideal, yang mau mendengar Sabda Allah dan mau menghayatinya secara penuh, dan tanpa syarat apa-apa. Baginya Sabda dan kehendak Allah adalah segala-galanya.

Pertanyaan untuk kita hari ini, termasuk tipe manakah hati kita?

Yesus, tambahkanlah imanku agar dari hari ke hari hatiku menjadi semakin baik demi pertumbuhan sabda-Mu. Amin.

Tinggalkan Pesan