510 anak mengikuti pendadaran THS THM di Sadi dan Malaka,

Disertai berbagai kidung rohani dan doa, 510 anak calon anggota Organisasi Bela Diri Pencak Silat Tunggal Hati Seminari dan Tunggal Hati Maria (THS-THM) Distrik Keuskupan Atambua, Dekanat Belu Utara dan Dekanat Malaka, mengikuti pendadaran yang juga merupakan kesempatan untuk lebih jauh mengenal THS-THM dan Gereja Katolik Roma beserta segala ajaran dan hukumnya, selain mencari dan melayani Tuhan Yesus dan Bunda Maria.

Saat membuka acara yang berlangsung tanggal 16 hingga 19 Juli 2015 di Sadi dan di Malaka, Koordinator Wilayah Dekanat Belu Utara Elias YT Mali menjelaskan bahwa sebelum diterima secara resmi menjadi anggota THS-THM, terlebih dahulu setiap calon anggota wajib mengikuti beberapa tahap yang telah diterapkan dalam organisasi, termasuk pendadaran.

Pendadaran dari kata “dadar” (Jawa) berarti memasak telur dengan bumbu. Ibarat telur, calon anggota dipecahkan dari pribadi yang lama, kemudian dimasukkan ke penggorengan berupa serangkaian proses pemantapan dan diolah bersama bawang, garam, dan lain-lain berupa masukan berharga tentang THS-THM khususnya dan hakikat kehidupan pada umumnya. Selanjutnya diangkat dan disajikan menjadi pribadi baru (Ef. 4: 22-24).

Menariknya, menurut Elias Mali, setiap pendadaran kebanyakan dipenuhi oleh anak-anak usia sekolah, “sebab, di pundak merekalah wajah Gereja lokal tergambar dan terpatri sangat jelas dalam melakukan pelayanan terhadap yang membutuhkan.”

Dia melihat keceriaan dari wajah anak-anak yang sungguh merupakan wajah Gereja lokal. “Inilah awal yang baik dalam melakukan pewartaan. Pewartaan dan keselamatan sejatinya milik anak-anak bukan milik orang dewasa, apalagi orangtua. Sebab, Yesus berkata, biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku.”

Secara terpisah, Stanis Bria Seran, salah satu perwakilan badan pengurus Distrik Keuskupan Atambua yang menghadiri serta turut membuka pendadaran di Dekanat Malaka mengatakan, sebenarnya di balik pendadaran, THS-THM menampilkan kemandirian Gereja lokal dan membuka kesempatan lebih luas bagi kaum muda dan anak anak untuk aktif dalam hidup menggereja.

“Sadar atau tidak, harus diakui bahwa zaman serba canggih ini membuat orang Katolik lupa akan jati diri. Anak-anak dan kaum muda harus benar-benar ditempa agar boleh menghasilkan generasi yang kuat dan tahan uji, bukan generasi bermental instant,” katanya di hadapan peserta pendadaran di Malaka.

Juanita dari Paroki Tukuneno mengatakan bahwa dia bergabung dalam THS-THM untuk melatih diri berbicara di depan umum serta belajar memimpin doa. “Saya sangat bersyukur karena lewat organisasi THS-THM saya akhirnya bisa berbicara di depan umum serta memimpin doa di kelas, di sekolah dan di rumah. Mental saya semakin tertata,” kata siswi kelas V SDK Lafaekfera itu. (Felixianus Ali)

 

 

 

 

Tinggalkan Pesan