19-Juli-KWI-R-702x336

PEKAN BIASA XVI (H)

Santo Arsenius Agung; Santa Aurea

Bacaan I: Yer. 23:1-6

Mazmur: 23:1-3a.3b-4.5b; R: 1

Bacaan II: Ef. 2:13-18

Bacaan Injil: Mrk. 6:30-34

Sekali peristiwa Yesus mengutus rasul-rasul-Nya mewartakan Injil. Setelah menunaikan perutusan-Nya, rasul-rasul itu kembali ber­­kumpul dengan Yesus dan membe­ritahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Lalu Ia berkata kepada mereka: ”Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.

Renungan

Suatu ketika, seorang saudagar kaya berjalan-jalan sepanjang pantai di senja hari sambil menikmati pemandangan sore yang indah. Saudagar itu heran melihat seorang nelayan sedang santainya duduk di pinggir pantai sambil mengisap sebatang rokok. ”Hai nelayan, mengapa engkau tidak pergi melaut, malah malas-malasan di sini!” tegur sang saudagar agak angkuh. ”Engkau harus bekerja keras untuk mendapatkan banyak uang dan menjadi seorang kaya,” lanjut saudagar itu. Sang nelayan menjawab, ”Baik Pak, saya akan melaut, tetapi apa yang saya buat setelah saya mendapatkan uang yang banyak dan menjadi seorang kaya?” Saudagar menasihatinya, ”Pak Nelayan, setelah engkau sudah mendapatkan uang yang banyak, engkau bisa membeli apa saja dengan uang itu, baru setelah itu engkau duduk-duduk santai di sini sambil menikmati indahnya matahari terbenam.” Sang nelayan menimpali, ”Menurut Bapak, sekarang ini saya sedang apa? Bukankah saya sedang menikmati indahnya matahari terbenam, sama seperti Bapak?”

Memberi waktu istirahat bagi diri sendiri di tengah berbagai kesibukan harian merupakan suatu keharusan. Kesempatan ini dipakai untuk menikmati hidup dan mensyukuri anugerah Tuhan yang setia menyertai perjalanan hidup kita. Inilah yang juga dilakukan oleh Yesus. Sekembalinya para murid dari tugas perutusannya untuk mewartakan Injil ke kampung-kampung, Yesus mengajak mereka untuk pergi ke tempat sunyi dan beristirahat seketika. Momen ini sengaja diciptakan-Nya agar mereka saling berbagi kisah dan saling menguatkan satu sama lain. Dalam keheningan yang sunyi ini mereka juga bisa berdialog dengan Tuhan dalam doa dan refleksi pribadi.

Inilah caranya kita merayakan hidup. Sering kali kita begitu sibuk dengan macam-macam pekerjaan dan hanyut dalam berbagai urusan duniawi, sampai kita lupa memberi waktu bagi diri untuk beristirahat dan mensyukuri berkat Tuhan dalam hidup kita. Apa pun kesibukan kita, apa pun pekerjaan kita, semuanya bertujuan untuk merayakan hidup dan menikmatinya dengan penuh syukur, dalam kesadaran akan Tuhan yang menganugerahkan semuanya itu kepada kita. Inilah makna hidup seorang murid Yesus yang harus kita hayati.

Tuhan, terima kasih atas penyertaan-Mu dalam hidupku. Semoga aku selalu memberi waktu untuk diriku berjumpa dengan Dikau secara pribadi dalam doa dan refleksiku. Amin.

 

 

 

 

Tinggalkan Pesan