Cardinal-Jean-Louis-Tauran-au-nom-du-prochain-pape_article_main

“Dengan senang hati, atas nama seluruh umat Katolik sedunia dan atas nama saya pribadi, saya mengucapkan selamat merayakan pesta Idul Fitri yang penuh kedamaian dan kebahagiaan,” demikian ucapan selamat di akhir Bulan Ramadhan dan Idul Fitri 1436 H/2015 AD dari Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama.

Ucapan selamat Idul Fitri dari Tahta Suci Vatikan kepada umat Muslim sedunia itu ditandatangani oleh Presiden dan Sekretaris Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama, masing-masing Kardinal Jean-Louis Tauran dan Pastor Miguel Ángel Ayuso Guixot MCCI tanggal 12 Juni 2015.

Pastor Markus Solo Kewuta SVD, imam dari Indonesia yang bekerja pada Kantor Dialog Katolik-Muslim dalam dewan kepausan itu, membagikan versi Bahasa Indonesia dari ucapan selamat bertema “Umat Kristiani dan Umat Islam: Bersama-sama Melawan Kekerasan yang Mengatasnamakan Agama” itu kepada para wartawan Katolik di Indonesia tanggal 15 Juli 2015.

“Dalam bulan Ramadhan, saudara sekalian sudah melaksanakan banyak kegiatan menyangkut agama dan sosial seperti puasa, doa, sedekah, bantuan kepada kaum miskin, kunjungan kepada sanak saudara dan sahabat. Saya berharap dan berdoa agar buah amal bakti ini dapat memperkaya kehidupan saudara sekalian,” tulis Kardinal Tauran.

Namun, bagi beberapa umat Muslim dan beberapa umat agama lain, tulis kardinal, “kegembiraan pesta ini dinaungi oleh ingatan sedih akan para kekasih yang telah kehilangan hidup atau harta-miliknya, atau menderita secara fisik, mental dan spiritual, disebabkan oleh kekerasan yang menimpa mereka.”

Bahkan beberapa komunitas etnik dan agama di sejumlah negara mengalami penderitaan amat besar dan tidak adil berupa “pembunuhan anggota mereka, perusakan warisan kebudayaan dan keagamaan, pengusiran paksa dari rumah dan kota mereka, pelecehan dan pemerkosaan perempuan, perbudakan, perdagangan manusia, jual-beli organ tubuh, bahkan penjualan mayat.”

Dikatakan, semua orang menyadari beratnya kejahatan-kejahatan ini. “Tetapi, yang membuatnya lebih menjijikkan lagi adalah usaha untuk membenarkannya atas nama agama. Sungguh jelas bahwa ini merupakan penyalahgunaan agama untuk memperoleh kekuasaan dan kekayaan,” tulisnya.

Tak disangkal, lanjutnya, yang diserahkan tanggung-jawab untuk menjaga keamanan dan ketenteraman umum, juga berkewajiban untuk melindungi orang dan harta-miliknya dari kekerasan buta para teroris.

Namun, tegas kardinal, ada juga yang bertanggung-jawab mendidik: keluarga, sekolah, buku pegangan sekolah, pemuka agama, wadah diskusi agama, media. “Kekerasan dan terorisme lahir lebih dahulu di dalam pikiran orang yang menyimpang, kemudian dilaksanakan di lapangan.”

Yang terlibat dalam pendidikan orang muda dan beragam kancah pendidikan, tegas dewan itu, seharusnya mengajar tentang kesakralan hidup dan keterkaitannya dengan martabat setiap pribadi, terlepas dari suku, agama, budaya, jenjang sosial, atau pilihan politiknya.

“Tidak ada orang yang hidupnya lebih berharga dari orang lain hanya karena suku atau agamanya. Karena itu, tidak seorang pun boleh membunuh. Dan tidak seorang pun boleh membunuh atas nama Allah. Bahkan, itu merupakan kejahatan dua kali lipat: karena melawan Allah dan melawan manusia,” tulis kardinal.

Juga ditegaskan, tidak bisa ada sikap mendua dalam pendidikan. “Masa depan seseorang, atau suatu komunitas, bahkan seluruh umat manusia tidak boleh didirikan di atas ambiguitas itu atau di atas kebenaran yang semu. Baik umat Kristiani maupun umat Islam, sesuai dengan tradisi masing-masing, memandang Allah dan berhubungan dengan Dia sebagai wujud Kebenaran. Kehidupan kita dan tingkah laku kita harus mencerminkan keyakinan ini.”

Menurut Santo Yohanes Paulus II, tegas Kardinal Tauran, umat Kristiani dan umat Islam mempunyai “privilese doa” (Pidato kepada Alim Ulama Muslim, Kaduna, Nigeria, 14 Februari 1982). “Doa kita sangat dibutuhkan: untuk keadilan, perdamaian dan ketenteraman di dunia; bagi mereka yang telah menyimpang dari jalan kehidupan yang benar dan melakukan kekerasan atas nama agama, supaya berpaling kepada Allah dan memperbaiki hidupnya; bagi orang miskin dan sakit.”

Mereka percaya bahwa perayaan-perayaan ikut memupuk harapan untuk masa kini dan masa depan. “Kita memandang masa depan umat manusia dengan penuh harapan, terutama ketika kita berusaha sekuat tenaga mewujudkan impian kita yang benar agar menjadi nyata.”

Bersama Paus Fransiskus, Kardinal Jean-Louis Tauran dan Pastor Miguel Ángel Ayuso Guixot MCCI serta semua staf dewan itu berharap “agar buah-buah bulan puasa Ramadhan dan kegembiraan Idul Fitri menganugerahkan kepada saudara sekalian kedamaian dan kesejahteraan, sambil meningkatkan perkembangan saudara sebagai manusia dan sebagai orang beriman.” (paul c pati)

IMG_8750-702x336

HMI-dialog-dengan-vatikan2

sajut-rp-miguel-angel-dan-din-syamsuddin-november-2014-hidup-katolik

Keterangan foto:

Kardinal Jean-Louis Tauran, foto dari La Croix

Pastor Miguel Ángel Ayuso Guixot MCCI bersama Pastor Markus Solo SVD

Kardinal Tauran dan Pastor Markus Solo saat menerima pengurus HMI di Vatikan

Pastor Miguel Ángel Ayuso Guixot MCCI bersama Ketua Muhammadyah Dim Syamsuddin di Jakarta, foto dari DAWN.com

 

 

Tinggalkan Pesan