????????

“Mgr Suwatan telah menunjukkan ketekunan yang besar pada perutusan, perhatian pada ekumenisme, persaudaraan dengan para imam, dengan para mahasiswa dan siswa seminari, pelayanan kepada kaum religius perempuan, bahkan orang sakit.”

Itu adalah bagian surat Paus Fransiskus kepada Uskup Manado Mgr Joseph Suwatan MSC, yang merayakan pesta perak tahbisan uskup, 29 Juni 2015. Uskup Padang Mgr Martinus Situmorang OFMCap membacakan surat itu pada perayaan syukur yang dipersiapkan oleh Kaum Bapa Katolik (KBK) Keuskupan Manado dan berlangsung di Graha Gubernur Sulawesi Utara.

Selain Uskup Padang, hadir juga Uskup Amboina Mgr Petrus C Mandagi MSC, Uskup Agung Kupang  Mgr Petrus Turang Pr, dan Uskup Bandung Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC. Sebanyak 60 imam, dan sejumlah biarawan-biarawati dan umat juga hadir bersama Gubernur Sulut SH Sarundayang, Kapolda Sulut, Kepala BNN Sulut, Danrem dan Danlanud Sam Ratulangi.

“Anda telah berusaha sedemikian sehingga orang beriman yang dipercayakan kepadamu menjadi taat pada pemerintah dan selalu teguh dalam iman, gembira dalam pengharapan, dan saling menaruh cinta kasih, seturut teladan Perawan Maria, supaya setiap hari mereka bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pelayanan akan Tuhan kita dan akan Yesus Kristus Juruselamat kita,” lanjut surat itu.

Pastor Petrus Tinangon Pr, yang mendapat kepercayaan untuk membawakan homili pada perayaan ini, mengungkapkan kesaksian seorang tokoh Muslim, KH Arifin Assagaf, yang mensharingkan pengalamannya dalam kebersamaan dengan uskup ketika Poso dihantam badai konflik.

“Sebenarnya dalam konflik itu nyawa uskup terancam. Tetapi uskup menjawab, kalau memang ajal saya harus sampai di sini, saya relakan demi misi kemanusiaan,” kata kiai itu seperti dikutip oleh Kepala Paroki Hati Kudus Yesus Tomohon itu

Ini beda tipis dengan Rasul Paulus yang mengatakan “Sebab bagiku, hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan,” kata Pastor Tinangon seraya menambahkan bahwa menurut Harold Khusner, orang yang siap mati adalah orang yang siap hidup.

Selanjutnya, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng itu mengatakan, seseorang dipilih bukan karena jasanya. “Tidak dengan kekuatan manusiawi orang membangun Gereja. Uskup sama seperti Paulus hanya mengandalkan Kristus yang mengatur dan meneguhkan tugas penggembalaannya.”

Atas nama para imam , kaum religius dan seluruh umat, Pastor Piet menyampaikan selamat kepada Uskup Manado. “Terima kasih atas kesaksian iman dan kesetiaan Bapa Uskup dalam mengemban jabatan yang tidak ringan. Terima kasih atas teladan kebersahajaan dan kesederhanaan hidup, atas perhatian besar bagi kami semua. Kami tahu, meski sering engkau tampak gelisah, ragu dan terganggu, itu karena dalam pertimbangan untuk melakukan yang terbaik. Kiranya Tuhan menjadi gembala bagi kita semua juga melalui penggembalaan uskup atas kami.”

Ketua Panitia, Rektor Unima Philoteus Tuerah mengakui, meski usia semakin lanjut, uskup berusaha menyesuaikan gaya kepemimpinan dengan situasi dan kondisi aktual Gereja dan masyarakat. “Gerakan baru ditandai dengan Muspas 1993, sinode Keuskupan 2000, renstra dalam rangka merayakan 50 tahun Hirarki Gereja Katolik Indonesia 2011. Semuanya menjadi sarana yang mengajak umat berjalan bersama sesuai visi Gereja Katolik Keuskupan Manado yakni persekutuan umat beriman kristiani yang mandiri, komunikatif, melayani serta misioner demi pembaharuan dan kesejahteraan bersama.”

Meski dipersiapkan oleh KBK, rektor mengakui perayaan itu melibatkan banyak pihak. Paduan suara MCC dan Unika De la Salle, WKRI, dan sejumlah pihak. Berbagai atraksi disuguhkan untuk menambah semaraknya perayaan. Ada Tarian Maengket PPA Sekami Paroki Bunda Hati Kudus Rumengkor, Tarian Pasutri Paroki Roh Kudus Tomohon, lagu dari para imam dan kaum religius, dan sejumlah atraksi lain.

Gubernur SH Sarundayang berterima kasih atas kebersamaan antara Gereja dan Uskup Manado dalam membangun kemitraan dengan pemerintah dan dalam membangun umat beragama, “sumbangan positif dalam membangun daerah ini menjadi bagian dari bangsa yang religius, meski kita mengakui bahwa masyarakat kita majemuk.”

Mgr Suwatan berterima kasih kepada semua yang mempersiapkan perayaan itu dan atas dukungan dan kerja sama selama 25 tahun. “Terima kasih pantas diberikan kepada gubernur terdahulu, CJ Rantung, EE Mangindaan, AJ Sondakh dan sekarang SH Sarundayang,” kata uskup yang juga berterima kasih atas kerja sama positif dengan Gereja-Gereja Kristen Protestan dari berbagai denominasi.

Tentang panggilannya, Mgr Suwatan mengatakan tak pernah berpikir menjadi uskup. “Tetapi saya bersyukur karena dipercayakan menjadi uskup di keuskupan ini. Kita hanya belajar untuk selalu siap sedia demi setiap perutusan. Ketika memasuki usia 75 tahun, saya sudah menulis surat kepada Sri Paus perihal usia ini. Paus sudah membalas dan memberinya kesempatan untuk melanjutkan kepemimpinan ini sampai pada waktunya. Siapapun yang menggantikan saya, yang pentingnya dia pastor bonus, mampu menjawab pertanyaan Yesus, ‘Apakah engkau mengasihi Aku?’”

Dalam surat Paus Fransiskus yang diterjemahkan dari Bahasa Latin oleh Pastor Shery Tobit Pr itu dikatakan, “Ketika masih muda, Anda merasa terpanggil untuk melayani umat Allah. Anda lalu bergabung dengan Tarekat Misionaris Hati Kudus Yesus, dan mengikuti pendidikan dan pembinaan sebagai calon imam. Anda kemudian ditahbiskan menjadi imam dan berkarya dalam perutusan tarekat, antara lain bertugas di Jakarta sebagai pastor-rekan.”

“Anda mengikuti studi lanjut dengan spesialisasi bidang Teologi Dogmatik di Universitas Leuven yang masyur itu, untuk selanjutnya bekerja sebagai dosen Teologi Dogmatik di Seminari Hati Kudus Pineleng. Anda pernah menjabat tugas sebagai Pater Provinsial dalam Tarekat MSC, menjadi moderator WKRI dan pernah bertugas sebagai anggota dewan konsultores Keuskupan Agung Jakarta,” lanjut surat itu.

Tahun 1990, tulis Paus Fransiskus,  “Santo Yohanes Paulus II mengangkatmu menjadi Uskup Keuskupan Manadoo. Anda mengemban tugas itu dengan penuh ketulusan, kemurahan hati dan keteguhan iman. Anda menjalaninya dengan kekuatan Roh cinta kasih, semangat kesalehan dan pengorbanan diri dan hidup dalam semangat kemiskinan. Bersama seluruh umat Keuskupan Manado, pantaslah kami menghaturkan limpah terima kasih kepada Bapa di sorga atas segala kemurahan yang telah dianugerahkan-Nya kepadamu. Kami pun selalu menyertaimu dengan doa dan harapan yang terbaik untukmu.” (Sales Tapobali)

????????

????????

????????

 

Keterangan foto: Uskup Mando duduk bersama dengan Gubernur Sulut, menyalami Rektor Unima yang juga ketua KBK Keuskupan Manado, dan bergambar bersama gubernur dan para uskup

Tinggalkan Pesan