12-Juli-KWI-R-702x336

PEKAN BIASA XV (H)

Santo Yohanes Gualbertus; Santo Nabor dan Felix

Bacaan I: Am. 7:12-15

Mazmur: 85:9ab-10.11-12.13-14; R: 8

Bacaan II: Ef. 1:3-14

Bacaan Injil: Mrk.  6:7-13

Sekali peristiwa Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, roti pun jangan, bekal pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan, boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju. Kata-Nya selanjutnya kepada mereka: ”Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu. Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.” Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.

Renungan

Di tengah keterbatasan manusiawi kita, Tuhan ternyata tetap memerlukan kita untuk menjadi perpanjangan tangan-Nya dalam menyebarkan cinta dan karya baik-Nya di tengah dunia. Tuhan tidak menunggu sampai manusia menjadi sempurna, untuk dapat memakainya menjadi penyalur berkat ke tengah dunia. Dalam segala keterbatasan, manusia tetap dipanggil, diangkat, dan dipilih Tuhan menjadi utusan-Nya.

Amos, seperti dilukiskan bacaan pertama hari ini, dipanggil Tuhan dari kalangan peternak dan diutus untuk bernubuat terhadap umat Israel. Tanpa psikotest ataupun pembekalan pengetahuan teologis yang memadai, ia dipakai Tuhan untuk melawan kesaksian palsu Amazia, imam di Betel. Demikian juga kedua belas murid dalam segala keterbatasan mereka, dipilih dan diutus Yesus berdua-dua ke tengah bangsa Israel untuk memaklumkan pertobatan. Malah lebih ekstrem, Yesus berpesan kepada mereka untuk tidak membawa apa-apa, kecuali tongkat. Tidak ada modal yang dapat diandalkan oleh para mantan nelayan itu. Satu-satunya harapan hanya iman akan panggilan Tuhan dan kebersediaan untuk bekerja sama dengan panggilan itu.

Sering kali kita tidak bersedia menanggapi panggilan Tuhan yang mau memakai kita untuk menjadi perpanjangan tangan kasih-Nya di tengah dunia. Terhadap panggilan menjadi pengurus lingkungan, stasi atau paroki, seribu alasan sering kali dikemukakan. Paling banyak adalah alasan keterbatasan diri, dan perasaan tidak layak untuk mengemban tugas yang mulia itu. Sabda Tuhan hari ini meneguhkan kita, bahwa dalam segala keterbatasan, Tuhan tetap mau memakai kita menjadi alat-Nya yang berharga untuk membawa berkat bagi sesama. Bersediakah kita?

Tuhan, semoga aku memiliki keterbukaan hati untuk bersedia menyanggupi pang­gilan-Mu menjadi pelayan bagi sesama, dalam segala keterbatasan manusiawiku. Amin!

 

 

Tinggalkan Pesan