IMG_2535

“Saya (satu persatu Suster M Caritas OP, Suster M Laurentia OP, Suster M Vincentine OP dan Suster M Olivia OP yang berlutut dengan lilin menyala menyebut namanya) mengucapkan kaul dan berjanji akan taat kepada Tuhan, kepada Santa Perawan Maria, kepada Santo Dominikus dan kepada Suster M Anna Marie OP selaku Pemimpin Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia dan para penggantinya sesuai dengan Regula Santo Agustinus dan Konstitusi Kongregasi ini. Saya mau hidup sebagai perawan Kristus, yang bersikap taat dan miskin seperti Kristus, untuk jangka waktu satu tahun.”

Sesudah kaul itu diikrarkan, satu persatu juga para suster naik ke panti imam untuk menandatangani janji itu di atas altar bersama Uskup Bandung Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC yang juga menjadi uskup untuk kongregasi itu, serta Suster Anna Marie OP.

Provinsial Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia itu lalu menyerahkan salib dan cincin yang diberkati oleh Mgr Subianto serta konstitusi kongregasi itu kepada para suster yang juga sudah bersedia ikut meluaskan Kerajaan Allah menghayati semangat hidup Santo Dominikus.

Pengikraran prasetya pertama itu dilaksanakan dalam Misa di Kapel Novisiat Baciro, Yogyakarta, 2 Juli 2015. Sekitar 200 umat, termasuk keluarga para suster yang baru berkaul itu, Dominikan Awam dari Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Cirebon dan Pontianak, suster-suster OP dari berbagai komunitas, beberapa imam, frater, bruder, dan suster dari kongregasi lain, menghadiri Misa itu.

Sehari sebelumnya di tempat yang sama lima orang awam diterima sebagai postulan dan dua sebagai novis Dominikan Awam. Selain itu lima orang awam mengucapkan atau membaharui janji mereka dan tujuh lainnnya mengucapkan Kaul Kekal Dominikan Awam. Semuanya dari Yogyakarta.

Misa yang diiringi kor dengan tujuh personalia dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta itu dipimpin oleh Mgr Subianto dengan Vikjennya Pastor Yustinus Hilman Pujiatmoko Pr dan Kepala Paroki Redemptor Mundi Surabaya Pastor Andreas Kurniawan OP sebagai konselebran.

Dalam homilinya Mgr Subianto mengingatkan para suster itu bahwa menjadi biarawati bukan untuk mengabdi orang miskin, bukan untuk mewartakan Injil, bukan untuk memberikan diri tetapi untuk menjadi kudus seperti Yesus.

“Ketika seseorang sudah menjadi kudus seperti Yesus, maka hal-hal lain akan datang dengan sendirinya,” kata uskup itu seraya menegaskan susahnya seseorang bisa mengabdikan diri untuk Gereja, untuk orang miskin, dan untuk karya kesehatan serta pendidikan, kalau dia tidak terlebih dahulu menjadi kudus.

Kepada para suster juga diingatkan bahwa hidup seperti murid Yesus perlu berkorban,  rela menyangkal diri dan memanggul salib dengan riang, ringan, penuh tawa ria dan sukacita, karena “bersama dengan Yesus beban itu akan terasa ringan.”

Hidup religius, lanjut uskup, harus dijalani dengan kerelaan dan sukacita agar terhindar dari rasa tertekan, penderitaan dan keluhan. “Yesus meminta kita untuk memikul beban itu bersama-sama dengan-Nya. Yesus adalah partner hidup kita untuk memikul beban itu, juga dalam mewujudkan kaul-kaul di dalam kongregasi Santo Dominikus ini, sehingga semuanya menjadi ringan.”

Uskup senang melihat para suster itu mengikrarkan kaul dengan ceria, namun “jauh lebih penting adalah menjalankan dan mewujudkannya dengan penuh sukacita, bukan sebagai aturan dari kongregasi tetapi suatu pengalaman iman untuk menjadi kudus melalui spiritualitas Santo Dominikus.”

Mgr Subianto melihat kaul dalam Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus itu sebagai komitmen Dominikan untuk menjadikan Yesus satu-satunya partner hidup dalam karya dan pelayanan. Uskup itu lalu berdoa semoga “Tuhan memberkati niat para suster ini dan mengingatkan kami yang sudah berkaul untuk menjadi kudus seperti Yesus.”

Seusai Misa itu, Suster Anna Marie berterima kasih kepada orangtuanya telah menyerahkan  puteri-puteri mereka ke dalam kongregasi itu dan datang dari Papua, Kemuning, Kalasan, dan Purbalingga untuk menghantar, mendukung dan menyaksikan pengikraran prasetya pertama puteri-puteri mereka.

“Masa pendidikan novisiat mereka telah selesai. Kini mereka siap menjadi yunior, untuk selanjutnya siap untuk Laudere, Benedicere, Praedicare (memuji, memberkati, mewartakan). Tapi yang penting adalah terus memperjuangkan kesetiaan, dengan tetap terus mengalami dan membaharui perjumpaan dengan Yesus, atau setidaknya terbuka dan membiarkan yesus menjumpai para,” kata Suster Anna Marie berdasarkan Seruan Apostolik Paus Fransiskus, Evangelii Gaudium, No. 3.

Provinsial para suster OP itu yakin bahwa para suster itu akan berjumpa dan memperbarui perjumpaan mereka dengan Yesus di mana pun mereka berada, teristimewa di tempat mereka diutus sebagai suster-suster yunior.

Suster Anna Marie mengumumkan bahwa Suster Laurentia OP dan Suster Vincentine OP akan bertugas di Komunitas Cimahi, Suster Olivia OP di Komunitas Cirebon, dan Suster Caritas OP di Komunitas Rawasenang.  “Selamat datang sebagai Yunior. Selamat membawa sukacita Injil ke mana pun kalian diutus,” kata Suster Anna Marie OP.(paul c. pati)

IMG_2587

IMG_2571

IMG_2615

Tinggalkan Pesan