IMG_2337

Kepada 40 orang yang ‘memberikan’ diri untuk melayani Kristus lewat berbagai kegiatan amal kasih dan pendidikan anak-anak kurang mampu di Surabaya, seorang suster Dominikan dari Filipina bertanya apakah yang dilakukan mereka sekedar melakukan pelayanan atau sudah menyadari eksistensi mereka sebagai pelayan.

Suster Tresia OP asal Indonesia yang menjadi anggota Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus dari Anunciata di Filipina menjawab, menjadi pelayan bukan hanya melakukan tetapi “menyadari eksistensi sebagai pelayanan yang menyangkut hubungan dengan Yesus.”

Sebanyak 40 anggota Blessing Club, Immanuel, dan relawan pengajar Bimbingan Belajar (Bimbel) dari Paroki Redemptor Mundi Surabaya melaksanakan rekoleksi di sebuah villa di Tretes, Jawa Timur, 29 Juni 2015. Suster Tresia OP dan temannya Suster Glecy Punongbayan OP dari Filipina membina mereka, dan Kepala Paroki Redemptor Mundi Pastor Andreas Kurniawan OP menutup rekoleksi itu dengan Perayaan Ekaristi.

Blessing Club tercetus Juli 2014 di Villa Blessing Hills, Pacet, saat seorang dari sekelompok umat yang sedang menerima rekoleksi terakhir untuk menerima Sakramen Penguatan tiba-tiba bertanya, “Gimana kalau kita buat kelompok atau komunitas yang berguna bagi orang banyak?”

Suster Tresia asal Sumatera Utara itu mengajak peserta untuk membaca, memperagakan dan merenungkan kisah Petrus yang sampai tiga kali ditanyai oleh Yesus apakah dia mencintai Yesus, hingga Yesus mengatakan, “Mari ikutilah Aku dan akan kujadikan penjala manusia.”

Suster Tresia OP mengatakan kepada PEN@ Katolik, pelayanan Tuhan seharusnya dilakukan karena cinta akan Tuhan. “Mereka harus mempunyai hubungan erat dengan Tuhan. Kalau tidak, bagaimana menjadi pelayan Tuhan?” Ditegaskan, semangat pelayanan haruslah cinta akan Tuhan yang dipupuk melalui  doa. Suster berharap mereka, “menjaga hubungan dengan Tuhan, karena kalau tidak mereka akan terjerumus menjadi pekerja sosial.”

Kemudian secara terpisah Suster Tresia OP membimbing para anggota Blessing Club dan Immanuel, dan Suster Glecy berbicara dengan para relawan pengajar Bimbel.

Kepada para relawan, Suster Glecy meminta mereka memahami bahwa misi yang mereka terima dari Tuhan adalah misi dari Tuhan bukan misi mereka sendiri. “Karena itu mereka harus memperlakukan setiap dan semua anak dengan senang hati,” kata suster itu kepada PEN@ Katolik.

Ada lima hal yang disampaikan. “Pertama, saya katakan bahwa tak seorang pun diciptakan jelek oleh Tuhan, semuanya sangat baik, dan kedua, dalam mengajar anak-anak mereka tidak boleh membanding-bandingkan, karena perbandingan merusak wajah anak-anak.”

Selanjutnya, suster berbicara tentang cinta yang membuat semuanya bisa dilakukan, tentang kemurahan hati yang otentik dan misi memberikan diri, serta tentang keyakinan kuat bahwa yang mereka lakukan adalah karya Allah dan bukanlah karya mereka.

Menurut Sonny Gunawan dari Blessing Club, kepada 20 anggota Blessing Club dan 4 Immanuel, Suster Tresia meminta agar dalam melayani Yesus kedua kelompok itu saling mengenal, membantu dan mendukung, bukan saling memusuhi atau berseteru. Kalau perselisihan terjadi, suster mengajak kedua kelompok itu membicarakan secara baik-baik.

Dalam presentasi kelompok umumnya peserta menegaskan ingin melaksanakan pelayanan yang tidak kaku. “Pelayanan keluar dari kedua kelompok ini lebih nyata, misalnya ke panti asuhan, panti jompo, panti anak-anak cacat dan lembaga pemasyarakatan. Biasanya kedua kelompok ini melakukan kegiatan bersama, dan dalam pelayanan mereka merasakan sukacita sangat besar.”

Dalam Misa, Pastor Andreas mengajak peserta terus menularkan kebaikan dengan pertama-tama meyakini bahwa mereka pada dasarnya diciptakan dengan baik oleh Tuhan. “Kalau kita mengeluarkan sesuatu yang baik, menghibur orang lain, membantu orang lain, menemani orang sakit, pasti kita akan merasakan damai, pasti hati kita akan senang dan bahagia. Iman akan menjadi aman kalau ada kemauan. Selain beriman kita juga harus ada kemauan dan kemampuan.”

Sebagai umat beriman yang mau disembuhkan dan dimampukan oleh Tuhan, Pastor Andreas mengajak peserta untuk pergi kemana pun dan menghasilkan madu untuk menjadi berkat bagi orang lain, bukan menjadi lalat yang mengakibatkan penyakit bagi orang lain.

“Kelompok Bimbel sebenarnya sudah menjadi bunga-bunga tapi mereka masih takut dan ragu cara bagaimana menjadi kumbang untuk anak-anak yang didampingi,” kata imam itu seraya mengingatkan bahwa rumah dari sebagian besar anak sempit bahkan tak punya halaman main, maka sebelum belajar mereka ke gereja untuk main, berlari sana sini, hingga saat bimbel mereka sudah capek.

Kepada para peserta pastor mengatakan, “kalau kalian habis kesabaran dalam pelayanan, perpanjangkanlah kesabaran kalian dengan memegang jubah Yesus, yang kesabaran-Nya tidak berbatas, dan teruslah menjadi kumbang bagi semua orang yang dilayani, menyembuhkan mereka, memberkati mereka.”

Pastor Andreas Kurniawan yakin, yang putus asa, bingung dan tanpa harapan akan dibangunkan oleh Yesus dengan berkata “Talita kum” (Hai anak, aku berkata kepadamu, bangunlah!” (paul c pati)

IMG_2350

 

IMG_2303

IMG_2315

 

Keterangan foto yang diambil oleh Paul C Pati dari atas ke bawah:

1. Pastor Anderas Kurniawan OP merayakan Misa penutup

2. Foto bersama sebagian peserta

3. Suster Tresia OP memberikan masukan

4. Suster Glecy Punongbayan OP berbicara dengan Pastor Andreas Kurniawan OP di depan sekelompok diskusi relawan bimbel

 

Bagikan
Artikel sebelumRabu, 1 Juli 2015
Artikel berikutJumat, 3 Juli 2015

Tinggalkan Pesan