1-Juli-KWI-R-702x336

Pekan Biasa XIII (H)

Harun, Imam Agung;
St. Oliver Plunkett; St. Teodorikus

Bacaan I: Kej. 21:5.8-20
Mazmur: 34:7-8.10-11.12-13; R:7a
Bacaan Injil: Mat. 8:28-34

Setibanya di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorang pun yang berani melalui jalan itu. Dan mereka itu pun berteriak, katanya: ”Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?” Tidak jauh dari mereka itu sejumlah besar babi sedang mencari makan. Maka setan-setan itu meminta kepada-Nya, katanya: ”Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu.” Yesus berkata kepada mereka: ”Pergilah!” Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Maka terjunlah seluruh kawanan babi itu dari tepi jurang ke dalam danau dan mati di dalam air. Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan setibanya di kota, diceritakannyalah segala sesuatu, juga tentang orang-orang yang kerasukan setan itu. Maka keluarlah seluruh kota mendapatkan Yesus dan setelah mereka berjumpa dengan Dia, mereka pun mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka.

Renungan

Kuasa kejahatan selalu menakutkan karena selalu bermuara pada kehancuran dan kebinasaan. Kisah dari Injil Matius yang kita dengar mempertegas kebenaran itu. Orang yang kerasukan setan itu tinggalnya di daerah pekuburan yang menjadi tempat pembaringan akhir dari raga setiap orang. Bukan kebetulan kalau orang yang kerasukan setan itu dilukiskan sebagai orang yang datang dari pekuburan, dan sebagai pribadi yang berbahaya. Karena memang karya setan selalu membahayakan kehidupan dan berujung pada kematian ”….maka terjunlah seluruh kawanan babi itu dari tepi jurang kedalam danau dan mati di dalam air”. Setan ingin merasuki dunia manusia dengan budaya kematian.

Selanjutnya, kisah dari Injil Matius ini menampilkan sebuah kenyataan lain, bahwa Yesus datang memperkenalkan budaya kehidupan. Hal ini tentu menjadi sandungan bagi tersebar luasnya karya setan itu. Karena itu, Yesus selalu dilukiskan sebagai tokoh yang menghalangi karyanya, ”Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau kemari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?”.

Hati kita kadang menjadi pekuburan, tempat yang paling nyaman bagi setan dan menjadi tempat darimana kejahatan itu datang. Dengan itu kita menjadi pribadi yang gemar melakukan hal-hal yang membahayakan kehidupan. Kalau sudah seperti itu, maka kehadiran Tuhan menjadi gangguan. Karena menjadi gangguan, maka pencarian akan DIA menjadi samar-samar dan bahkan malah diingkari dengan kesadaran penuh, tahu dan mau.

Tuhan, layakanlah hatiku sebagai tempat Engkau bersemayam. Arahkanlah pe­kerjaanku agar menjadikan diriku dan bumi ini semakin bermartabat. Amin.

Tinggalkan Pesan