29-Juni-KWI-R-702x336

PEKAN BIASA XIII 

Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus, Rasul (M)

Bacaan I: Kis. 12:1-11

Mazmur: 34:2-3.4-5.6-7.8-9; R:5

Bacaan II: 2Tim. 4:6-8.17-18

Bacaan Injil: Mat. 16:13-19

Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: ”Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka: ”Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka: ”Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: ”Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: ”Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.”

Renungan

Sejak permulaan Gereja merayakan Pesta Santo Petrus dan Paulus secara bersamaan karena keduanya merupakan tokoh penting dalam sejarah Gereja. Petrus adalah putra seorang nelayan dari kampung Betsaida di tepi danau Genasareth. Dia tidak berpendidikan karena pekerjaan pokoknya adalah nelayan, tetapi merupakan orang kepercayaan Yesus. Sementara itu Paulus lahir di Tarsus dari keturunan Yahudi tetapi warga negara Romawi. Dia seorang terdidik dan belajar Kitab Suci pada Gamaliel. Sebagai seorang Fairisi yang fanatik dia mengejar pengikut-pengikut Yesus. Tetapi di dalam perjalanan ke Damaskus Yesus memanggilnya dan menjadi rasul bangsa kafir.

Baik Petrus maupun Paulus mengalami banyak penderitaan, penganiayaan, terancam mati karena mengikuti Yesus Kristus. Keduanya mati sebagai martir karena iman akan Yesus Kristus. Sebagai pengikut-pengikut Yesus yang sejati, kita juga barangkali akan mengalami apa yang dialami oleh Petrus dan Paulus. Kemartiran tidak harus selalu berarti mengorbankan hidup karena iman akan Kristus. Kemartiran juga berarti mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadi demi nilai-nilai Injil. Semoga berkat doa kedua rasul agung ini kita lebih termotivasi untuk mengikuti Yesus secara konsekuen.

Tuhan, semoga berkat doa Petrus dan Paulus aku semakin setia menghayati nilai-nilai Injil-Mu. Amin.

 

Tinggalkan Pesan