27-Juni-KWI-R-702x336

PEKAN BIASA XII (H)
Santa Emma, Santa Cyrilus dari Alexandria

Bacaan I: Kej. 18:1-15

Mazmur: Luk. 1:46-47.48-49.50.53.54-55

Bacaan Injil: Mat. 8:5-17

Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya: ”Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya: ”Aku akan datang menyem­buhkannya.” Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: ”Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: ”Aku ber­kata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: ”Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya. Setibanya di rumah Petrus, Yesus pun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangunlah dan melayani Dia.” (Bacaan selengkapnya lihat Alkitab …)

Renungan

Ada dua keutamaan yang ditemukan pada perwira tinggi Romawi di dalam Injil hari ini. Pertama, perhatian yang luar biasa terhadap hambanya yang sakit. Di dalam seluruh wilayah kekaisaran Romawi seorang hamba diperlakukan hampir sama seperti hewan. Majikan tidak akan peduli apakah dia hidup atau mati. Tetapi perwira dalam Injil hari ini mencintai hambanya yang sakit dan berjuang supaya dia sembuh. Kedua, imannya yang luar biasa. Dia menyadari posisinya sebagai seorang kafir. Dia tahu bahwa Yesus seorang Yahudi tidak boleh memasuki rumah seorang kafir. Karena itu, ketika Yesus hendak datang ke rumahnya dia memohon: ”Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Mat. 8:8).

Dua kualitas luar biasa itu justru ditemukan pada seseorang yang dianggap kafir atau tidak beragama oleh orang Yahudi. Tidak jarang sikap orang Yahudi itu bisa ditemukan juga dalam orang-orang beragama ketika mereka menganggap agamanya lebih baik dari agama orang lain. Semoga firman Tuhan hari ini mendorong kita untuk mengubah cara pandang kita terhadap kelompok lain berdasarkan suku, ras, dan agama. Kebenaran bukan monopoli kita, tetapi bisa dimiliki oleh setiap orang yang berkehendak baik.

Tuhan, bantulah aku untuk terbuka terhadap perbedaan-perbedaan dan menerima kebenaran yang

Tinggalkan Pesan