25-Juni-KWI-R-702x336

PEKAN BIASA XII (H)

Santo Gulielmus; Santa Febronia

Bacaan I: Kej. 16:1-12.15-16

Mazmur: 106:1-2.3-4a.4b-5; R:1a

Bacaan Injil: Mat. 7:21-29

Dalam khotbah di bukit, Yesus bersabda: ”Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah daripada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!

Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”

Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.

Renungan

Salah satu ukuran dari ”menjadi murid Yesus” adalah kemampuan untuk melakukan kehendak Allah. ”Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam kerajaan surga melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga” (Mat. 7:21). Orang seperti itu sama dengan orang bijak yang membangun rumah di atas batu itu. Ukuran kebaikan seseorang tidak terletak pada apa yang dia ucapkan melainkan pada apa yang dilakukannya. Orang boleh mengucapkan kata-kata atau janji-janji yang indah, tetapi kalau tidak diwujudkan dalam perbuatan konkret, maka hal itu tidak ada gunanya.

Kadang-kadang orang mungkin mengakui percaya kepada Allah dengan bibir, tetapi barang kali tidak demikian dalam perbuatannya. Rasanya tidak sulit mengucapkan rumusan doa Aku Percaya, tetapi sangat sulit untuk sungguh-sungguh menghidupi etika Kristiani. Tidak jarang terjadi ada jurang antara perkataan dan perbuatan. Allah tidak bisa diperdaya oleh kata-kata yang indah, tetapi diyakinkan oleh perbuatan-perbuatan konkret. Semoga Sabda Tuhan dalam Injil hari ini mendorong kita untuk menyatukan kata dan perbuatan.

Tuhan, bantulah aku untuk selalu menyelaraskan apa yang aku ucapkan dengan apa yang aku lakukan. Amin.

 

Tinggalkan Pesan