SONY DSC

Semangat mencari kedudukan dan kenyamanan sering muncul dalam sikap para klerus. Maka, dalam tradisi yang tetap terpelihara, selalu ada tahbisan diakon sebelum tahbisan imamat. Seperti Yesus datang bukan untuk dilayani melainkan melayani dengan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi manusia, para diakon pun ditahbiskan bukan untuk memerintah dan berkuasa melainkan untuk melayani.

Uskup Manado Mgr Joseph Suwatan MSC menegaskan hal itu saat menahbiskan 12 diakon baru, yang terdiri dari sembilan diakon MSC dan tiga diakon diosesan dari Keuskupan Manado, di Kapel Seminari Tinggi Hati Kudus Pineleng, 20 Juni 2015.

Selain sejumlah biarawan-biarawati, keluarga para diakon, umat dan undangan, hadir juga 56 imam, termasuk Rektor Seminari Pineleng Pastor Melki Malingkas Pr dan Superior Skolastikat MSC Pastor Johanes Sujono MSC yang mendampingi uskup.

Menurut Mgr Suwatan, baik dalam tahbisan diakonat maupun tahbisan imamat, selalu diingatkan bahwa setiap tahbisan untuk pelayanan. “Mereka yang ditahbiskan mengikut Yesus secara khusus dan mau mengambil bagian dalam salib Yesus secara khusus pula.”

Para diakon itu, kata uskup, bagaikan 12 Rasul, “yang dipanggil dan diutus Yesus untuk melanjutkan pewartaan Kerajaan Allah, yang saling melayani dan belajar mengorbankan diri.”

Mgr Suwatan mengajak para diakon melihat suasana dunia yang tetap diwarnai berbagai bentuk kekerasan, pembunuhan dan pengungsi, dan suasana Indonesia di mana  banyak orang berlomba-lomba untuk berkuasa, banyak orang serakah dan mencari kehormatan. “Sikap para diakon dan imam mesti berlawanan dengan sikap dunia dan masyarakat,” kata uskup.

Dalam hal itu, Uskup Manado mengajak diakon dan imam untuk belajar dari Paus Fransiskus yang tampil sebagai pribadi sederhana yang menghindari hal-hal protokoler dan menghambat, pribadi yang rendah hati dan gampang ditemui. “Gereja dan pastoran kita mesti selalu terbuka dan pastornya pun gampang ditemui agar umat mudah mendapatkan pelayanan,” pinta uskup.

Menyadari bahwa kejahatan di berbagai bidang selalu terjadi karena orang kehilangan belaskasihan pada sesamanya, uskup meminta diakon yang ditahbiskan untuk menjadi pelayan yang berbelaskasih. “Cinta dan belas kasih sungguh dibutuhkan dunia saat ini,” tegas uskup.

Uskup mengamati bahwa orangtua merasa bangga karena anak-anak mereka ditahbiskan. “Kebanggaan yang sesungguhnya adalah kebanggaan rohani, karena mereka ditahbiskan untuk melayani Gereja dan masyarakat,” uskup mengingatkan.

Josep Saletia menyatakan, orangtua gembira karena anak-anak mereka mendapat anugerah rahmat tahbisan, namun “tugas kita tidak selesai, kita akan terus mendukung dan mendoakan agar mereka bukan hanya menjadi diakon tetapi menjadi imam yang baik dan mampu melayani dalam semangat belaskasih.”

Diakon Julius Estefanus Belyanan MSC melihat tahbisan itu sebagai langkah awal tugas pelayanan Gereja untuk membantu uskup, menghidupkan ibadat yang menguduskan, menjadi pewarta Kabar Gembira, dan menghadirkan kesaksian yang memikat. “Banyak pengalaman kami selama proses pendidikan dan pembinaan. Kami diingatkan akan kekosongan diri dan siap diisi oleh rahmat Allah semata,” kata diakon itu.

Menurut Paus Fransiskus, kata Pastor Melki Malingkas, kesamaan antara uskup, imam dan diakon adalah bahwa mereka itu manusia dan selalu membawa dalam dirinya kerapuhan, pernah jatuh dalam kesalahan, tidak setia dan juga berdosa. “Perbedaannya, kalau tiga orang ini jatuh dalam dosa, diakon dan imam lambat bertobat, uskup lebih cepat. Sebaliknya, kalau lagi marah, diakon dan imam cepat berubah, uskup lebih lamban. Tapi uskup kita tidak suka marah.”

Pastor Melki berharap para diakon itu tetap setia dan mempersiapkan diri menuju puncak imamat. “Kalian ini bagaikan 12 Rasul Yesus. Setia terus menjadi murid, jangan sampai ada yang menjadi rasul dan berkhianat.” (Sales Tapobali)

 

 

Tinggalkan Pesan