SONY DSC

Dalam suratnya kepada seminaris dan novis  beberapa waktu lalu, Paus Fransiskus menggarisbawahi kegembiraan, salib dan doa, dan dalam merayakan Tahun Hidup Bakti, Paus mengajak kaum berjubah untuk menyadari betapa indahnya panggilan Tuhan.

“Kita orang yang terpanggil secara khusus, dengan cara hidup yang khusus hendak mengikuti Yesus. Hendaknya kita membagikan kegembiraan, karena menerima anugerah panggilan khusus ini, kepada sesama dalam tugas pengabdian, sambil mengajak orang lain mengikuti panggilan-Nya,” kata Pastor Berty Tiwow MSC.

Asisten III Provinsial MSC Indonesia mengatakan hal itu saat membuka perayaan penerimaan busana untuk sembilan frater MSC di Kapel Skolastikat MSC Pineleng, Sulawesi Utara, 17 Juni 2015.

Menurut mantan dosen Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng itu, kaum religius adalah orang-orang terberkati karena Allah memberikan Roh-Nya kepada mereka, sehingga mereka disebut rohaniwan. “Maka sebagai rohaniwan, hidup kita hendaknya ditandai kesadaran bahwa Roh Tuhan selalu ada padaku,” tegas imam itu.

Jubah sebagai busana rohani, lanjut imam itu, adalah pakaian kaum rohaniwan, biarawan-biarawati, busana khas orang-orang yang Roh Tuhan ada pada mereka. “Busana rohani sekaligus penghiburan Allah atas perjalanan dan perjuangan panjang para seminaris sejak seminari menengah atau KPA dan tahun pra-novisiat. Kegembiraan ini adalah kekuatan untuk melangkah ke jenjang pembinaan selanjutnya,” Pastor Berty Timow meneguhkan.

Pastor Berty menjelaskan, masa novisiat sering disebut masa padang gurun, masa bertapa bersama Yesus selama setahun. Di sana, sesudah kegembiraan ini, akan ada salib, kata imam itu. “Anda dipanggil mengikuti Yesus secara lebih dekat. Namun Kristus yang kita ikuti adalah Kristus yang tersalib. Makna salib tak bisa dipisahkan dari setiap kegembiraan rohani. Salib inilah yang akan mendampingi manusia dalam membereskan aneka hal yang belum beres dan menghadapi berbagai konflik. Kesadaran akan salib dan kerelaan memikulnya adalah hakekat perjuangan seorang religius dan biarawan. Kaum berjubah yang hidup tanpa perjuangan salib bukanlah religius dan rohaniwan sejati,” kata imam itu.

Belajar dari Yesus, lanjut iman itu, kekuatan religius dalam menghayati misteri salib terletak pada doa. “Seorang religius adalah pendoa. Komunitas religius yang tidak berdoa bukanlah komunitas biara.”

Seorang wakil orangtua mengungkapkan, penerimaan busana bukanlah akhir perjuangan anak-anak mereka serta doa orangtua dan keluarga. “Langkah ini meletakkan dasar bagi langkah selanjutnya. Maka sebagai orangtua kami mengajak kalian, anak-anak kami, terus berjuang dan berdoa, kami terus berdoa agar busana rohani ini membawamu kepada imamat  yang dibaktikan kepada Allah, Gereja dan dunia.”

Mewakili sembilan frater, Frater Yansen mengungkapkan keyakinan bahwa Tuhanlah yang memanggil dan menyertai mereka. “Kalau bahasanya anak elektronik, panggilan Tuhan membuat hati kami bergetar lebih dahsyat dari getaran turbin yang membangkitkan arus AC fasa 220 volt 50 hertz. Sehingga ketika menjauhkan diri dari Tuhan, kami bagaikan computer digital tanpa mikro prosesor, bagaikan rangkaian pemancar tanpa catu daya. Hanya Tuhan yang bisa me-recharge kekosongan muatan kapasitor hati kami. Dia ingin agar hati kami dan hati-Nya bagaikan belitan inductor yang melekat kuat pada inti transformator,” katanya.

Uskup Manado Mgr Josef Suwatan MSC yang hadir pada ramah tamah menyampaikan selamat kepada para novis yang akan melanjutkan tugas pembinaan di Karangayar, Jawa Tengah, “untuk membentuk hati sambil belajar agar Hati Kudus Yesus menjadi hati kita.”

Tiga hari kemudian, 20 Juni 2015, Mgr Suwatan menahbiskan 12 diakon baru, sembilan MSC dan tiga praja (diosesan) Manado. (Sales Tapobali)

Tinggalkan Pesan