Aphrem II

Patriark Ortodoks Suriah dari Antiokhia dan Seluruh Gereja Katolik Timur, Moran Mor Ignatius Aphrem II, akan berada di Roma dari tanggal 17 hingga 20 Juni 2015, untuk bertemu Paus Fransiskus, dan serangkaian kegiatan lain. Aphrem II terpilih sebagai Patriark Ortodoks Suriah dari Antiokhia yang ke-123 tahun 2014.

Sejarah Gereja Ortodoks Suriah berawal dari umat Kristen perdana yang didirikan di Antiokhia. Santo Petrus dan Santo Paulus tinggal di Antiokhia. Dari Antiokhia, para misionaris pertama keluar untuk menginjili Asia dan Eropa. Gereja Ortodoks Suriah muncul akibat perpecahan setelah Konsili Kalsedon tahun 451.

Gereja Ortodoks Suriah memiliki struktur patriarki. Komunitas Ortodoks Suriah ada di Suriah, Turki, Irak, Lebanon, dan Israel; dan akibat berbagai gelombang emigrasi, ada juga di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Australia, dan Selandia Baru. Komunitas terbesar ada di India.

Gereja Ortodoks Suriah Malankara merupakan bagian integral dari Gereja Ortodoks Suriah dan mengakui Patriark Ortodoks Suriah dari Antiokhia sebagai patriark tertinggi. Katolikos untuk Gereja Ortodoks Suriah Malankara adalah Yang Mulia Mor Baselios Thomas I, yang akan menjadi bagian dari delegasi yang akan mengunjungi Roma.

Gereja martir ini telah mengalami episode penganiayaan dalam sejarah emigrasi, dan bahkan baru-baru ini, dengan kejadian tragis di Suriah dan Irak. Uskup Agung Gereja Ortodoks Suriah dari Aleppo, Mar Gregorius Yohanna Ibrahim, bersama Uskup Paul Yazigi, dari Gereja Yunani-Ortodoks dari Aleppo, diculik dua tahun lalu, tanggal 22 April 2013 di pinggiran Aleppo.

Gereja Ortodoks Suriah telah mengalami tragedi Sayfo (Spada). Ketika itu, setengah juta warga Suriah tewas pada akhir Perang Dunia Pertama. Perang itu berlangsung pada waktu yang sama dengan kekerasan terhadap orang Armenia.

Di antara Gereja-Gereja Ortodoks Timur, Gereja Ortodoks Suriah adalah yang paling dekat dengan Gereja Katolik. Dalam deklarasi bersama yang ditandatangani Paus Yohanes Paulus II dan Patriark Mar Zakka I Iwas di Roma, tanggal 23 Juni 1984, kedua belah pihak mengakui iman yang sama di dalam Kristus dan mengaitkan perbedaan dalam terminologi Kristologis dengan keragaman budaya.

Bulan November 1993, Teologi Komisi Bersama Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Suriah Malankara menyusun kesepakatan tentang pernikahan antaragama, yang sekarang dikenal sebagai “Kontrak Kerala.” Perjanjian, yang disertai serangkaian arahan pastoral itu, disetujui oleh Paus Yohanes Paulus II dan Patriark itu tanggal 25 Januari 1994.

Patriark itu akan bertemu Paus Fransiskus hari Jumat, tanggal 19 Juni 2015. Pada hari itu Patriark itu akan juga ikut doa bersama dan melakukan pertemuan di Dewan Kepausan untuk Peningkatan Persatuan Umat Kristen, dan akan melakukan kunjungan ke makam Santo Petrus. (pcp berdasarkan Radio Vatikan)

 

Tinggalkan Pesan