8-Juni-KWI-R-702x336

PEKAN BIASA X (H)

Santo William; Beata Maria Drozte; Beato Nikolaus Gesturi

Bacaan I: 2Kor. 1:1-7

Mazmur: 34:2-3.4.6-7.8-9;R:9a

Bacaan Injil: Mat. 5:1-12

Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:

Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.

Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Mat 5:6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.

Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.

Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”

Renungan

Dalam Kotbah di Bukit, Yesus Sang Guru menyampaikan pesan-pesan-Nya. Pesan-pesan itu disampaikan kepada para murid supaya disampaikan kepada segala bangsa di seluruh penjuru dunia. Isinya sangat berbeda bahkan bertolak belakang dengan nilai-nilai dunia ini. Mereka yang dianggap berbahagia oleh dunia adalah orang-orang kaya, berkuasa, glamor, atau dikelilingi cewek-cewek cantik. Tetapi Yesus menawarkan nilai-nilai sebagai sumber kebahagiaan, yakni miskin di hadapan Allah, lemah-lembut, haus akan kebenaran, murah hati, suci hati, cinta damai, berkorban demi kebenaran. Orang-orang seperti itulah yang dianggap berbahagia oleh Yesus.

Secara sepintas pesan-pesan Yesus itu seperti tidak masuk akal. Tetapi kalau dihayati sungguh-sungguh, kita akan menemukan kebahagiaan di dalamnya. Kebahagiaan sejati diperoleh hanya kalau kita miskin di hadapan Allah dan menggantungkan seluruh hidup kita kepada Allah sebagai penyelenggara Ilahi, berbuat yang benar, berani berkorban karena kebenaran, murah hati, dan cinta damai. Beranikah kita memilih sikap berbeda dari kebanyakan orang di luar sana? Mahatma Gandhi mengakui bahwa justru pesan-pesan Yesus di dalam Kotbah di Bukit itu telah memberanikan dia untuk mengambil sikap berbeda dalam hidup. Semoga kita pun demikian.

Tuhan, bantulah aku agar sanggup melawan arus dunia yang memuja-muja kekuasaan. Kekayaan, dan seks. Amin.

Tinggalkan Pesan