SONY DSC

Kerasulan awam (kerawam) adalah sakramen, jalan kepada keselamatan. Bidang politik sebagai salah satu bentuk kerawam, dalam arti luas, adalah wujud konkret dari keberpihakan kita demi kesejahteraan bersama dengan keterlibatan sepenuh hati dalam usaha bersama mewujudkan kepentingan umum yang adil, damai dan sejahtera.

Gagasan itu merupakan inti sari dari buku “Seandainya Indonesia Tanpa Katolik” karya Pastor A Eddy Kristianto OFM yang diterbitkan oleh Obor tahun 2015, sebagai perbandingan atas buku “World Without Islam” yang pernah terbit.

Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam? Ada berbagai gerakan fundamentalisme, terorisme, ISIS, dan pengeboman dengan nama Islam yang sering dipakai oleh kelompok tertentu sehingga menimbulkan anggapan bahwa dunia akan lebih baik tanpa Islam. Tetapi ternyata, dunia tanpa Islam tidak lebih baik. Dan dalam sejarah, Kekristenan dan Kekatolikan tidak lebih baik dari Islam. Ada begitu banyak alasan membuktikan bahwa Kekristenan tidak lebih baik dari Islam,” kata Pastor Eddy Kristianto.

Ketua STF Driyarkara itu berbicara dalam seminar sehari dengan tema yang sama dengan judul buku “Seandainya Indonesia Tanpa Katolik” yang berlangsung di Wisma Montini Keuskupan Manado, 30 Mei 2015, yang dihadiri sekitar 100 guru, tokoh umat, mahasiswa, biarawan-biarawati, utusan ormas Katolik dan sejumlah politisi dan calon pimpinan daerah.

Imam itu menegaskan bahwa memahami Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Papua tanpa kekristenan adalah mustahil, karena “fakta membuktikan bahwa gerakan pembangunan di banyak tempat, khususnya di kantong Kristen, bukan dimulai oleh negara melainkan oleh para pewarta dan misionaris. Dengan kata lain, Indonesia Timur sangat kuat dengan unsur kekristenan.”

Pengalaman sejarah bangsa Indonesia membuktikan bahwa sangat mudah asal usul, latar belakang, dan unsur agama mempertajam konflik kepentingan dan orientasi keuntungan material. “Ancaman terbesar dalam hidup sebagai bangsa yang manusiawi adalah materialisme. Ancaman, bukan dari agama atau penganut agama atau aliran kepercayaan, tapi sikap dan cara hidup yang pelan tapi pasti merembes dalam hidup manusia zaman ini yang lebih percaya kepada materi,” tegas Pastor Eddy Kristianto OFM.

Ancaman karena materialisme ini, lanjut anggota Ordo Saudara-Saudara Dina itu, akan mengeruk agama dan iman dari dalam. “Hampir semua penduduk di Indonesia adalah umat beragama, tapi tindakan dan kebijakan lebih banyak bertentangan dengan yang diajarkan dan diperjuangkan oleh agama. Pencurian, kekerasan,kejahatan,dan korupsi justru dilakukan oleh orang beragama, bahkan yang mengenakan simbol-simbol keagamaan. Kantong dan sarang penyamun justru ada di kantong-kantong keagamaan.”

Dalam kondisi seperti itu, kata profesor yang menyelesaikan pendidikan S3 di Universitas Gregoriana Roma, dibutuhkan sikap hidup berjalan bersama sebagai bangsa yang majemuk dalam rangkaian gerbong yang disebut Indonesia. “Republik kita tidak pernah mengekslusifkan minoritas Katolik. Tak pernah mayoritas memiliki program untuk mengeliminasi minoritas. Bahwasanya ada yang merasa memarginalkan dan ada yang merasa dimarginalkan, pertama-tama soal rasa.”

Menurut imam itu, suasana umum di Indonesia sangat kondusif bagi siapapun. “Indonesia menjadi rumah damai bagi semua, apa pun agama, ras dan sukunya. Sebab kodrat manusia Indonesia adalah bersekutu dalam perbedaan dan keanekaan.”

Kreatif, lanjut imam itu, diperlukan agar yang minoritas hidup bertahan dan bermakna di rumah bersama Indonesia. “Kehadiran kita bermakna kalau diperhitungkan, tapi hanya diperhitungkan kalau berprestasi. Sayangnya, banyak umat tak punya militansi sebagai orang Katolik dan mudah berkompromi!”

Uskup Manado Mgr Josef Theodorus Suwatan MSC berharap para calon pimpinan daerah yang ingin maju benar menghayati misi dan panggilan menjadi pimpinan masyarakat dan daerah yang sungguh melayani, dan peserta diajak ikut memilih dengan cerdas, disertai tanggungjawab nurani demi kepentingan umum.

Saat membuka seminar itu, Ketua Komisi Kerawam Keuskupan Manado Pastor Fred Tawaluyan Pr menjelaskan bahwa kondisi sosial kemasyarakatan dan politik Indonesia, khususnya Keuskupan Manado, memerlukan pencerahan dan perbaikan demi perubahan di masa kini dan mendatang. “Gereja  dalam diri umat-Nya harus hadir dan terlibat aktif-kreatif dalam realitas sosial-politik, demi mengambil peran yang relevan dan signifikan.” (Sales Tapobali)

SONY DSC

Tinggalkan Pesan