3-Juni-KWI-R-702x336

PEKAN BIASA IX (H)
Peringatan Wajib Santo Karolus Lwanga dkk; Santa Klotilda; Santo Kevin

Bacaan I: Tob. 3:1-11a.13.16-17

Mazmur: 25:2-4a.4b-5ab.6-7bc.8-9; R:1b

Bacaan Injil: Mrk. 12:18-27

Datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: ”Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai sau­dara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang istri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Lalu yang kedua juga mengawini dia dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Demikian juga dengan yang ketiga. Dan begitulah seterusnya, ketujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itu pun mati. Pada hari kebangkitan, bilamana mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia.” Jawab Yesus kepada mereka: ”Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di surga. Dan juga tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam ceritera tentang semak duri, bagaimana bunyi firman Allah kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!”

Renungan

Tobit dalam bacaan pertama hari ini menyampaikan keluh kesah kepada Allah karena matanya buta. Dia mengira bahwa penderitaannya itu disebabkan oleh dosa-dosa pribadi ataupun nenek-moyangnya. ”Janganlah menghukum aku karena segala dosaku atau karena dosa yang dibuat oleh nenek-moyangku” (Tob. 3:3b). Kepercayaan seperti itu bukan tidak lazim pada masyarakat kita. Orang yang mengalami malapetaka atau bencana dipercayai karena dosa yang dibuat pada masa lampau. Tetapi kepercayaan seperti itu tidak bisa diterima begitu saja. Ada penderitaan yang disebabkan oleh dosa yang dibuat manusia. Tetapi, tidak sedikit manusia yang mengalami penderitaan walaupun dia mungkin tidak melakukan dosa yang setimpal dengan penderitaannya.

Misteri penderitaan telah menjadi teka-teki yang sulit terjawab hingga kedatangan Yesus. Melalui wafat dan kebangkitan, Yesus menunjukkan bahwa penderitaan tidak lagi dilihat sebagai akibat dosa-dosa pribadi melainkan sebagai satu jalan yang harus ditempuh guna mencapai keselamatan. Di dalam Yesus yang bangkit kita percaya bahwa penderitaan dan kematian bukanlah akhir segala-galanya, sebab ”Allah kita bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup”. Mudah-mudahan dengan iman seperti ini kita bisa menerima penderitaan kita dengan sabar dan menyatukannya dengan penderitaan Yesus dan hanya dengan itu kita beroleh keselamatan.

Tuhan, semoga aku mampu menerima salib-salib hidupku sebagai jalan yang harus kutempuh untuk memperoleh keselamatan. Amin.

Tinggalkan Pesan