25-Mei-KWI-R-702x336

Pekan Biasa VIII (H)
Santo Beda Venerabilis; Santo Gregorius VII; Santa Magdalena dan Sofia

Bacaan I: Sir. 17: 24-29

Mazmur: 32:1-2.5.6.7; R:11a

Bacaan Injil: Mrk. 10:17-27

Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”

Jawab Yesus: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja. Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” Lalu kata orang itu kepada-Nya: “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.”

Renungan

Banyak orang kaya tidak suka mendengar sabda Yesus tentang sulitnya mereka masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sabda itu lebih menunjukkan keprihatinan Tuhan dengan gaya hidup banyak orang kaya. Mereka yang memiliki lebih banyak (harta) seharusnya lebih mampu berbagi dengan sesama yang membutuhkan bantuan konkret. Seorang kaya yang tidak peka dan enggan berbagi tidak pantas bagi Kerajaan Allah. Mengapa? Karena Kerajaan Allah adalah sebuah situasi dimana kebenaran, keadilan, cinta dan kasih sayang dipraktikkan; di mana orang saling merawat dan membantu demi terwujudnya kesejahteraan bersama.

Indikasi seorang murid Tuhan yang sejati, selain mengikuti-Nya tanpa syarat, juga berani melepaskan segalanya tanpa syarat, hidup dalam semangat berbagi dengan sesama. Ketimpangan sosial-ekonomi masa kini bukan karena Tuhan tidak peduli, tetapi kita yang tidak rela berbagi. Jadi, orang kayalah yang paling mudah masuk ke dalam Kerajaan Allah karena punya kesempatan untuk berbagi. Yesus sudah menunjukkan bagaimana Ia yang kaya rela menjadi miskin, agar kita menjadi kaya dalam kemiskinan-Nya (bdk. 2Kor. 8:9). Tuhan datang agar kita hidup dalam kelimpahan (bdk. Yoh. 10:10), dan dalam kelimpahan itu kita bisa berbagi dengan sesama.

Tuhan Yesus Kristus, gerakkanlah diriku untuk berbagi dengan sesama, seperti Dikau telah berbagi kekayaan rahmat Allah dengan aku. Amin.

 

Tinggalkan Pesan