21-Mei-KWI-R-702x336

PEKAN PASKAH VII (P)
Santo Eugenius de Mazenod OMI; Santo Godrikus; Santo Herman Yoseph

Bacaan I: Kis. 22:30; 23:6-11

Mazmur: 16:1-2a.5.7-8.9-10.11; R:1

Bacaan Injil: Yoh. 17:20-26

Dalam perjamuan malam terakhir,  Yesus   mengadah ke langit dan berdoa  bagi para pengikut-Nya: ”Bapa yang kudus, bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.”

Renungan

Di persidangan Mahkamah Agama, Paulus mengangkat isu kebangkitan orang mati untuk menunjukkan perpecahan di antara orang Farisi dan Saduki. Ini mengingatkan kita pada sabda Yesus: “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa … atau rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan” (Mat.12:25).

Hal berbeda ditunjukkan oleh Gereja Perdana. Dalam masyarakat yang terkotak-kotak, orang kagum melihat orang Yahudi, Yunani, pria-wanita, budak-orang merdeka, kaya-miskin hidup sehati dan sejiwa. Inilah inti doa Yesus: agar kita semua satu, seperti Ia dan Bapa. Dan itu pasti terjadi jika kita memiliki dan hidup dalam kasih. Kesatuan umat Allah adalah tanda yang paling efektif untuk menunjukkan siapa kita dan untuk apa kita diutus. “… supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku, dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.”

Bagaimana dengan kita? Apakah paroki, keluarga dan komunitas Kristiani masa kini sungguh mencerminkan kesatuan itu? Atau jangan-jangan, kita justru menjadi momok yang menimbulkan perpecahan dan perselisihan?

Tuhan Yesus Kristus, rendahkanlah hati dan buanglah kesombonganku, agar mampu hidup sehati-sejiwa dan menjadi saksi kesatuan-Mu dengan Bapa, kesatuan-Mu dengan Gereja dan keselamatan yang Engkau sediakan bagi semua makhluk. Amin.

 

Tinggalkan Pesan