Pater Hironimus Aron SVD (berdiri pakai kameja putih dan membelakangi kamera) bersama Priskat sedang berikan renungan untuk napi dan tahanan di Rutan Kefamenanu, Minggu (17-5-2015)

Pendamping dan pembimbing rohani Komunitas Pria Sejati Katolik (Priskat) Dekanat Kefamenanu, Keuskupan Atambua, Pastor Hironimus Aron SVD mengatakan bahwa berdoa merupakan keintiman pribadi manusia dengan Tuhan Allah. Maka, imam itu mengajak para napi dan tahanan di penjara agar tetap berdoa untuk isteri dan anak-anak, juga buat orangtua bagi yang belum berkeluarga, karena “kalau mau jujur, doa seorang napi dan tahanan pasti dikabulkan Tuhan, karena berdoa dari penyesalan dan sungguh-sungguh dari niat tulus untuk bertobat.”

Pastor Aron berbicara dalam renungan bertema “Imam yang Berdoa” saat pelayanan rohani yang dilakukan Priskat Dekenat Kefamenanu terhadap para narapidana dan tahanan di Rumah Tahanan (Rutan) Klas IIB Kefamenanu, 17 Mei 2015. “Tentunya kalian semua sudah rindu dan mau keluar dari penjara toh? Tuhan senantiasa mengampuni kalian,” hibur imam itu. Pelayanan rohani itu dilakukan setiap bulan oleh Priskat dari dekanat itu.

Ketua Priskat Dekanat Kefamenanu Darmawan Brenda mengatakan bahwa maksud dan tujuan pelayanan rohani itu adalah “untuk melakukan peneguhan dan serta penguatan rohani terhadap para  narapidana dan tahanan, sehingga nantinya mereka sebelum dan sesudah dibebaskan dari penjara, setidaknya boleh melakukan pertobatan dengan lebih sungguh-sungguh dan kelak boleh dijadikan panutan di tengah-tengah masyarakat.”

Mungkin saja di saat ini, katanya, mereka masih dianggap “kelas buangan” oleh masyarakat karena ulah dan kesalahannya. “Namun di situlah kami Priskat datang menjenguk mereka dan menjadikan mereka sebagai sahabat, bukan sebagai ‘kelas buangan’,” katanya.

Dalam kesempatan sharing, seorang napi mengungkapkan ketidakenakan hatinya ketika dituduh terlibat langsung dalam kasus pembunuhan terhadap seseorang di dalam sel tahanan polisi. “Saya secara pribadi sudah berkomitmen kalau sudah dibebaskan dari penjara ini, saya mau berubah, saya mau hidup baru. Hidup di penjara ini sungguh tidak mengenakan,” katanya. (Felixianus Ali)

 

Tinggalkan Pesan