turang-2-702x336

Kita dapat mengirim teks-teks Kitab Suci melalui gadget teknologis, tetapi apakah perilaku kita sesuai dengan teks Kitab Suci yang dikirim? Kita dapat mengirimkan doa secara virtual, tetapi apakah kita adalah manusia pendoa? Apakah kita masih membaca Kitab Suci dan berdoa bersama dalam keluarga atau cukup melalui sms atau BB?

Ketua Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Petrus Turang Pr mengungkapkan beberapa pertanyaan itu dalam homili Misa Penutupan Pekan Komsos Nasional KWI di Ketedral Kristus Raja, Sorong, 17 Mei 2015. Misa itu diawali arak-arakan yang dihiasi tari-tarian penyambutan dari beberapa kelompok adat, yakni Minahasa, Kei, NTT dan Papua.

Di depan ratusan umat Keuskupan Manokwari-Sorong serta konselebran Uskup Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC dan Uskup Manokwari-Sorong Mgr Hilarion Datus Lega Pr, Mgr Turang yang juga Uskup Agung Kupang berharap keluarga-keluarga tetap selfie dalam anugerah cintakasih dan “bukan saja memamerkan selfie keluarga demi kehebatan dan ketenaran dalam instagram atau facebook!”

Kembali Mgr Turang bertanya, “Apakah dengan semua yang baik ini, keluarga semakin menjadi Katolik dan Kristiani? Suka damai, rukun, peduli sesama dan memerhatikan mereka yang lemah serta saling membantu untuk menjadi murid-murid Kristus yang sejati?”

Gaya hidup baru, menurut Mgr Turang, menuntut pendekatan dan penghayatan baru, agar komunikasi dalam keluarga tetap mengutamakan sentuhan manusiawi: permisi (May I), terima kasih (Thank You) dan minta maaf (Excuse Me), seperti yang dikatakan oleh Paus Fransiskus.

Dalam surat itu, Mgr Turang mengajak umat untuk bersyukur atas segala kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi, seraya menempatkan diri mereka penuh tanggungjawab. “Kita harus saling memanusiawikan dalam hidup keluarga dengan memanfaatkan alat komunikasi yang tersedia.”

Tujuannya, lanjut uskup agung, agar keluarga-keluarga menjadi rukun dan damai, yakni berlaku kasih satu sama lain dan saling menghormati dalam penggunaan teknologi komunikasi. “Kita membangun hidup keluarga yang bermartabat anak-anak Allah, yaitu kemerdekaan untuk memelihara ciptaan Tuhan dalam perjalanan keluarga, utamanya pendidikan anak-anak dalam iman Kristiani.”

Mgr Turang mengamati, dunia sedang berada dalam perubahan dahsyat, salah satunya akibat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Sekarang, prelatus itu mengamati, orang berbicara tentang global village, desa atau kampong global, biarpun kenyataannya memang berbeda! Di desa atau kampong, biasanya orang saling kenal dan saling menyapa dari muka ke muka, tetapi dalam global village nyatanya orang semakin terasing di tengah kemajuan teknologi dengan segala gadget-nya.

Kenyataan itu, tegas Mgr Turang, menjadi pengalaman harian dalam keluarga-keluarga. “Dunia digital menghadirkan perubahan atau hubungan komunikasi secara baru dalam keluarga. Peralatan komunikasi yang merasuki keluarga membangun perilaku khusus, yang belum pernah hadir selama ini. Hubungan kekeluargaan berubah. Orangtua dan anak-anak semakin ditangkap basah oleh alat-alat komunikasi. Face to face semakin berubah menjadi facebook atau perangkat digital dengan pelbagai nama.”

Dalam suasana itu, tanpa disadari kesejatian komunikasi dalam keluarga berkembang secara positif dan negatif. “Keluarga-keluarga nampaknya semakin mempercayakan diri pada alat-alat bantu komunikasi, yang pada gilirannya seringkali menjauhkan diri, bahkan membuat kita saling ‘terasing’. Kepedulian akan sesama dalam keluarga berubah menjadi ‘angka’ dalam teknologi komunikasi,” kata Mgr Turang.

Apakah artinya ini bagi keluarga? “Keluarga masuk dalam gaya hidup baru dengan segala dampaknya, baik yang menyenangkan maupun tak menyenangkan. Dunia digital dalam keluarga semakin menjadi kehadiran jari yang saling menyapa secara pribadi. Jari manusia dalam keluarga semakin dikuasai oleh cara kerja baru, yaitu penghampiran dalam bentuk maya yang bermakna,” jawab Mgr Turang.

Uskup mengerti maknanya adalah memperluas jejaring komunikasi, namun disesali karena kehadiran pribadi secara fisik berkurang, bahkan hilang. “Anggota keluarga dapat menjauh dari makan bersama akibat ketagihan dalam penggunaan alat komunikasi modern.” Jadi, di samping kemajuan dalam membangun peradaban baru, keluarga-keluarga terperangkap dalam kebutuhan yang tidak nyata melalui keinginan yang dibentuk akibat iklan atau fitur-fitur dalam teknologi komunikasi.

Pergerakan on line nampaknya semakin menjadikan sesama anggota keluarga “orang lain”, sehingga komunikasi manusiawi memudar dan hubungan pribadi menjadi samar-samar, kata Mgr Turang. Di tengah perubahan itu, “keluarga memang mengalami kegembiraan berjejaring, namun kemesraan keluarga harus berhadapan dengan senjata teknologi yang sangat ampuh menyodorkan gaya khusus yang berbeda,” kata uskup seraya mengingatkan dampak memukau dari teknologi komunikasi dapat menyebabkan keretakan dalam keluarga, persaingan kepemilikan gadget dalam keluarga, bahkan kecurigaan serta ketidak-percayaan satu sama lain.

Hal lain yang bisa muncul adalah gosip dalam keluarga atau antarkeluarga akibat pemakaian alat komunikasi yang tidak bertanggungjawab. “Pemberdayaan teknologi komunikasi tidak dengan sendirinya memberdayakan hubungan pribadi dalam keluarga: kebiasaan adat istiadat yang baik dan merukunkan dapat menjadi luntur akibat pengaruh konsumeristik media sosial digital,” tegas uskup agung itu.

Dalam kotbah itu Mgr Turang juga mengingatkan tentang berkecamuknya aliran radikal dan fundamentalistik, pentingnya pendidikan komunikasi dalam keluarga secara benar, serta kesejatian hidup keluarga lewat penguatan dan penghayatan akan anugerah cintakasih, kasih karunia yang ditanamkan Tuhan dalam hati keluarga.

Di akhir kotbah Mgr Turang minta agar keluarga-keluarga tidak takut melainkan berani menjadi keluarga Kristiani yang baik dan benar. “Salah satu tanda dari anugerah cintakasih adalah rela berkorban seperti Kristus yang datang melayani sesama menurut kehendak Bapa-Nya. Ingatlah bahwa komunikasi dalam keluarga sangat ditentukan oleh tiga hal, yaitu permisi, terima kasih, dan minta maaf!” (paul c pati berdasarkan bahan dari Mirifica.News)

 

1 komentar

Tinggalkan Pesan