romo-kamilus-702x336

Keluarga adalah ruang sosial saat komunikasi antaranggotanya terjadi. Keluarga merupakan komunitas yang saling berkomunikasi. Karena itu, keluarga mesti menjadi sumber daya dan bukan sebagai persoalan bagi masyarakat.

Sekretaris Eksekutif Komisi Komunikasi Sosial Pastor Kamilus Pantus Pr mengatakan hal itu dalam sambutan pembukaan Pekan Komunikasi Sosial Nasional-Konferensi Waligereja Indonesia (PKSN-KWI) di Aula Lux Ex Oriente, Katedral Sorong, 12 Mei 2015, seperti yang dilaporkan oleh Mirifica.news.

Salah satu perutusan keluarga, menurut Pastor Kamilus, adalah membentuk serta membina anggotanya agar menghormati hidup sesama, terutama iman sesama yang berbeda. Imam itu menegaskan, keluarga harus menjadi kediaman dan wahana belajar hidup, sehingga ketika saatnya hidup dalam masyarakat, yang beragam latar belakang budayanya, anggota keluarga itu akan menghayati hidup baik dan rukun.

“Dengan belajar menghormati sesama di luar keluarga, kita tidak dengan gampang melecehkan atau menghina sesama di luar keluarga kita. Keluarga harus menumbuhkan komitmen akan nilai-nilai kemanusiaan sebagai jembatan bersama untuk memelihara dan merawat kerukunan hidup. Itulah bagian utuh dari komunikasi manusiawi guna mewujudkan persaudaraan dan persahabatan dalam hidup masyarakat kita,” tegas Pastor Kamilus.

Menurut imam itu, kemajuan teknologi digital tidak dengan sendirinya memajukan komunikasi manusiawi dalam keluarga. Karena itu, “keluarga harus mendidik anggotanya dalam menggunakan media digital, agar bertanggung jawab menurut peradaban kasih yang efektif, dan harus mampu mengarahkan hati nurani anggota-anggotanya agar kerukunan hidup tidak retak dan rusak akibat media digital.”

Pastor Kamilus berharap anggota keluarga “tidak menjadi netizen yang hebat, tetapi anggota keluarga yang lemah,” yang tidak memajukan komunikasi manusiawi dalam keluarga, karena “kemajuan teknologi komunikasi, utamanya digital, diharapkan memajukan nilai-nilai dan makna keluarga dalam masyarakat.”

PKSN-KWI itu dibuka dengan Perayaan Ekaristi pada hari yang sama di Katedral Kristus Raja, Sorong,  yang dipimpin oleh Uskup Manokwari-Sorong Mgr Hilarion Datus Lega. Misa itu dimeriahkan oleh paduan suara OMK Keuskupan Sorong dengan kekuatan 140 orang dari tujuh paroki.

Meskipun Paus Fransiskus menekankan pentingnya kebersamaan dalam keluarga di Hari Komsos 2015, namun Keuskupan Manokwari-Sorong mewujudkannya dengan memperkuat peran orang muda Katolik (OMK). “Sebagian besar aktivitas PKSN-KWI kali ini akan disesaki oleh anak-anak muda luar biasa dari berbagai tempat di Sorong,” kata Mgr Datus Lega dalam homilinya.

Uskup berharap agar dengan tangan-tangan muda berbakat, gema pesan Paus Fransiskus di Hari Komsos 2015 itu akan terus mengaung tidak hanya terbatas dari tanggal 12 hingga 17 Mei 2015. “Semoga ini juga didukung oleh keluarganya masing-masing,” harap uskup.

Komunikasi, menurut uskup itu, menempatkan orang-orang pada satu titik temu (to meet), yang lalu membuat satu sama lain saling menggapai (to reach), sehingga akhirnya membawa orang-orang pada titik yang saling memperkaya diri (riching point).

“Hal yang sama juga dilakukan Allah yang menyampaikan pesan atau berita kepada umat manusia lewat Yesus Kristus. Di dalam Yesuslah titik temu itu terjadi hingga pada akhirnya memperkaya manusia sendiri dengan cinta,” kata uskup itu.

PKSN-KWI yang dipusatkan di keuskupan itu diisi dengan pelatihan jurnalistik untuk orang muda, 12-13 Mei 2015, yang diikuti 120 peserta dari Kabupaten Sorong, Aimas, Bintuni, Manokwari, Maybrat, Fak Fak, Kaimana, dan mahasiswa-mahasiswi Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik Santo Benediktus Sorong. Pelatihan itu membantu peserta mengetahui cara menulis, meliput berita, wawancara, mengambil sudut berita dan memahami fotografi jurnalistik.(pcp berdasarkan laporan Mirifica.news)

Bagikan
Artikel sebelumSelasa, 12 Mei 2015
Artikel berikutRabu, 13 Mei 2015

Tinggalkan Pesan