sassoferrato-madonna-detail-featured-w740x493

Ketua Komisi Kerasulan Keluarga (Kom-KK) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) Pastor Alexander Erwin Santoso MSF kembali menulis surat untuk semua keluarga di mana saja dengan judul “Surat Keluarga Mei 2015.” Membaca indahnya dan perlunya surat ini, PEN@ Katolik mengutip secara langsung surat yang ditayangkan di website Keuskupan Agung Jakarta http://www.kaj.or.id/ untuk Anda:

Sang Bunda tidak pernah lelah mengasuh

Sebab ia tahu bahwa Putranya sungguh berharga

Sang Ayah tidak pernah lagi mengeluh

Karena ia tahu Anaknya itu istimewa

Mutiara yang dipendam akan dijaga pemiliknya

Mempelai yang datang dinantikan dengan rajin

Sebab ada yang jauh lebih berharga

Dari sekedar perjuangan sekarang ini

Keluarga-Keluarga di mana saja,

Kita semua sedang mempersiapkan masa depan yang baik buat keluarga kita. Kita ingin mempersiapkan suatu situasi yang lebih muda, sejahtera, jauh dari kesulitan, untuk anak-anak dan seluruh keluarga. Kita memberi perhatian yang serius pada keluarga karena tahu bahwa masa depan berasal dari perhatian kita hari ini juga.

Perhatian dan perjuangan setiap keluarga berbeda. Ada yang mudah, karena berkecukupan secara finansial; ada yang hangat, karena biasa berjuang bersama-sama meskipun tidak kaya raya. Ada pula yang penuh perjuangan, karena kesulitan fisik dan finansial. Mereka yang miskin dan cacat barangkali mempunyai perjuangan berbeda membangun masa depannya. Mereka yang pecah dan hidup terpisah lebih sulit lagi membuat perencanaan karena sulitnya berkomunikasi.

Di antara banyak peristiwa itu, ada lebih banyak keluarga dalam situasi sedang, tidak terlalu menderita, tidak kaya raya. Kebanyakan keluarga dalam situasi biasa. Apakah Anda termasuk dalam situasi ini? Apa yang Anda lakukan untuk masa depan Anda dan keluarga? Apakah Anda telah mempersiapkan masa depan mereka dengan cermat dan penuh tanggung jawab?

Saya berjumpa dengan pasutri yang inspiratif. Mereka telah menikah 57 tahun. Saat ini keduanya berusia di atas 75 tahun. Kisah mereka pasti mengenai cara didik anak yang kuno, keras dan tidak popular sekarang ini. Mereka membiasakan anak-anak tidak memegang uang saku. Ibu membuat makanan buat bekal anak-anak di sekolah. Gaji sebagai tentara tentu pas-pasan. Anak-anak mengeluh, tetapi mereka tahu pasti bahwa orangtua mereka tidak bergeming dan berlaku adil. Seluruh keluarga tidak pernah bermewah-mewah, tetapi mereka semua sekolah di sekolah Katolik yang tidak murah.

Pasutri ini tegas mengatakan agar anak-anak berpacaran dengan teman seiman. Alasannya jelas, “Kamu boleh berteman dengan siapa saja, tetapi pasangan hidup tetap harus Katolik.” Klise tetapi menantang untuk diterapkan sekarang ini. Kesulitan karena pernikahan campur tidak dialami oleh semua anak-anak mereka, karena mereka yakin dan disiplin menyampaikan ajaran kepada anak-anak mereka yang jumlahnya 6 orang. Kekuatan cinta dan iman telah mengalahkan segala ketakutan dan menumpas segala hambatan dari luar bagi seluruh keluarga mereka.

Saya tidak ingin bermimpi. Sebagai imam yang berjuang bersama keluarga-keluarga di Jakarta, saya ingin mewujudkan mimpi ini menjadi nyata. Seluruh orangtua harus tahu bagaimana mendidik anak-anak dengan benar, penuh kasih, dan dalam iman yang tak tergoyahkan. Mendengar pasutri yang sekarang telah renta ini, saya terharu. Semua anak-anak mereka tidak mengalami luka batin, sebab mereka tahu maksud sebenarnya dari orangtua mereka.

Mendidik anak-anak bukan dengan pukulan, tetapi dengan disiplin dan keadilan. Orangtua yang baik tidak menjilat ludahnya sendiri. Mereka menerapkan sepenuhnya apa yang diajarkan sebagai benar bagi putra-putrinya. Orangtua yang sederhana membawa anak-anak dalam terang, karena mereka tidak pernah coba-coba dan memberikan yang sekedarnya bagi pendidikan mereka.

Keluarga-keluarga yang terkasih, belajar dari keluarga Kudus, khususnya Maria dan Yosef yang bertekun dalam panggilan mereka sampai akhir, marilah kita memberikan hidup yang sekali ini untuk mengukir nama indah di hati putra-putri kita. Mulai masa dikandung sampai mereka mandiri dan menikah, Anda tetaplah orangtua yang tak tergantikan. Bertekun dalam iman dan kebenaran, memberi waktu secukupnya, berbahasa cinta setiap hari, berjuang bersama anak-anak tercinta, adalah kesempatan yang tak anak pernah kembali lagi.

Sebentar lagi, pada bulan Juni, kita akan bersama-sama belajar menjadi orangtua Katolik. Kursus Orangtua Katolik (KONTAK) akan diselenggarakan. Beberapa orang dari setiap paroki akan diundang. Mereka akan menjadi pengajar untuk pendidikan orangtua. Saya dan para imam di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) mencoba membantu merencanakan masa depan minim-masalah, dengan mendidik semua orangtua Katolik menjadi orangtua yang arif dan sadar-peran.

Bukanlah mimpi menciptakan kembali keluarga-keluarga kudus di jaman ini. Paus kita telah mengangkat pasutri menjadi beato-beata, Luigi dan Maria Beltrame Quattrocchi. Kini saatnya Anda berjuang meneladan mereka. Saya percaya, jika kita setia dan berusaha sungguh, masa depan akan menjadi hadiah istimewa. Kita tidak usah takut akan masa depan, karena kesulitannya akan berbeda, tetapi setiap usaha cinta akan membawa kekuatan bagi anak-anak kita melampaui segala halangan itu dengan tangguh dan percaya.

Sabda Tuhan mengatakan, “Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel.” (Kel.19:6). Semoga Bulan Maria menjadi bulan keluarga lagi buat kita. Mengenang Maria bukan hanya mengenang namanya, atau sekedar meminta berkat, tetapi belajar menjadi berkat sejak sekarang bagi putra-putri yang kita kasihi. Saya berdoa buat Anda sekalian. Tuhan memberkati.

Pastor Alexander Erwin Santoso MSF

Rm-Erwin-Santoso-MSF

*Foto diambil dari “Semakin Tua Semakin Manis.”

o-WHAT-MAKES-A-GOOD-PARENT-facebook-1024x683

1 komentar

  1. Menyejukkan hati rasa nya membaca surat seperti ini, saya seorang Bapak dari 2 orang anak. puji Tuhan keduanya sudah di baptis secara Katolik, saya sendiri baptis semenjak bayi. Memberi contoh disiplin di era sekarang makin banyak tantangan, namun figur terdekat memang orang tua.
    Saya sendiri baru saja mengikuti seminar Romo Erwin di Tarakanita Pluit, sehingga membaca surat nya
    menjaga semangat untuk tetap bekerja di ladang Tuhan dengan menjadi orang tua Katolik.
    Berkah Dalem

Tinggalkan Pesan