last-supper-30

PEKAN PASKAH V (P)
Santo Hilarius dari Arles; Santa Yutta; Santo Angelus; Beato Vinsent  Soler

Bacaan I: Kis. 14:19-28

Mazmur: 145:10-11,12-13b.21:R:11a

Bacaan Injil: Yoh. 14:27-31a

Dalam amanat perpisahan-Nya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ”Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan ke­padamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku. Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi. Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Ku. Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku.”

Renungan

Ketika musim libur tiba, orang berlomba-lomba memadati tempat-tempat rekreasi untuk melepaskan diri dari rutinitas. Area pegunungan, pantai, dan suasana pedesaan pun dipadati untuk  mencari suasana tenang, nyaman, dan damai. Sayangnya, ide kita tentang damai tidak selalu sama dengan damai yang diberikan Yesus. Damai sejahtera yang diberikan dunia dapat dengan cepat buyar berantakan oleh hal-hal kecil dan sepele.

Sebuah lagu rohani anak berbunyi: ‘Ke gunung tinggi ku naik, naik, naik mencari damai; ke lembah curam ku turun, turun, turun mencari damai; tapi akhirnya damai tiada kudapati juga, kecuali hanya di dalam Yesus Tuhan.’ Damai yang diberikan Yesus adalah keselamatan dan kehidupan. Damai itu berasal dari hidup dekat dengan diri-Nya (bdk. Yoh.16:33). Damai ini kokoh dan kekal, tidak dapat digoncang oleh aneka pencobaan karena dibangun dalam kasih Kristus, dan tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan kita dari kasih ini (bdk. Rm. 8:35-38).

Mari kita meneladani para rasul yang karena kasihnya kepada Tuhan memiliki damai sejahtera meskipun harus menanggung penderitaan. Damai sejati memang berasal dari Tuhan, dan Ia telah menanamkan itu dalam hati kita melalui Roh Kudus.

Tuhan Yesus Kristus, biarkan aku merasakan damai-Mu, agar aku mampu membawa damai bagi sesama. Amin.

 

Tinggalkan Pesan