DSC05566

Jika tidak ingin Indonesia kehilangan masa depan, pendidikan budi pekerti mendesak untuk dikembalikan ke dunia sekolah. Dengan dikembalikan budi pekerti ke bangku sekolah, tata pergaulan, tata komunikasi serta tata budaya yang dirasakan sudah hilang di dalam masyarakat Indonesia setidaknya dalam kurun waktu 17 tahun ini dapat dikembalikan.

Demikian inti sari tiga pembicara dalam Pelatihan Kepemimpinan yang diadakan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) St Pignatelli Surakarta, 3 Mei 2015. Para peserta pelatihan tiga hari itu mendengarkan masukan dari Wapemred Harian Kompas Trias Kuncahyono, Konsultan Komunikasi Politik AM Putut Prabantoro, dan Anggota DPRD Provinsi Banten dari PDIP Ananta Wahana.

Menurut Pastor Josephus Benedictus Clay Pareira SJ, dia bersama Ketua Dewan Pembina STIE St Pignatelli Pastor Benedictus Bambang Triatmoko SJ bertekad menjawab tantangan dalam mencetak kader pemimpin yang berbudi pekerti dan bernyali.

“Indonesia sudah terlampau lama mengabaikan pendidikan budi pekerti bagi anak bangsanya dan senantiasa meninabobokan segala bentuk aspirasi dengan uang,” kata Wakil Direktur STIE St Pignatelli Surakarta itu.

Menurut Trias, pendidikan budi pekerti sangat mendesak untuk ditanamkan kembali ke dunia pendidikan. “Kita semua bertanggung jawab atas masa depan Indonesia yang bermartabat, berbudaya dan sekaligus berakhlak.  Mengembalikan pendidikan budi pekerti ke sekolah setidaknya akan menjamin Indonesia dengan masa depan yang lebih baik,” tegasnya.

Sebaliknya, tanpa ada budi pekerti dalam tata pergaulan atau tata komunikasi “membuat para mahasiswa menjadi pemimpin yang tidak profesional, haus kekuasaan dan tidak memiliki hati,” ujar Trias.

Trias mengambil contoh sopir angkot yang sama sekali tidak memiliki rasa bersalah, bahkan tidak peduli meski sudah melanggar hak pemakai jalan lain. Hampir di semua kota, sopir angkot tidak memiliki kepedulian terhadap hak orang lain yang sama-sama menggunakan jalan. Sementara aparat penegak hukum di jalan juga tidak peduli juga terhadap perilaku para sopir angkot itu. “Itu contoh riil apakah budi pekerti ada dalam masyarakati kita tidak.”

Mahasiswa yang berperilaku menyontek saat ujian atau skripsi juga menunjukkan tipisnya budi pekerti di kalangan mahasiswa, lanjut Trias. “Dan lambat laut sifat permisif itu menjadi budaya yang pada akhirnya akan menghancurkan bangsa Indonesia,” tegas penulis buku ‘Jerusalem’ yang dicetak  ulang 17 kali.

Menurut Putut Prabantoro, para pemimpin bangsa harus menyadari bahwa setidaknya selama 17 tahun, generasi baru Indonesia melihat tokoh bangsa atau pejabat yang berperilaku jauh dari berbudi pekerti.  “Tontonan televisi seperti konflik horizontal antarpelajar, perebutan kekuasaan, korupsi oleh para pejabat negara, konflik antarpenegak hukum, yang biasa ditonton di televisi, adalah contoh buruk yang terekam dalam kehidupan mereka,” katanya.

Putut mengamati bahwa generasi muda Indonesia selalu dihadapkan pada pilihan buruk dengan munculnya diskriminasi agama, diskriminasi suku, diskriminasi ras atau juga diskriminasi dunia kerja dalam kehidupan sehari-hari.

“Sekalipun dididik dalam warna Bhinneka Tunggal Ika, kenyataannya kehidupan sehari-hari mereka menemukan begitu banyak diskriminasi. Sementara di sisi lain, para pemimpin bangsa dalam perilakunya seringkali memunculkan konflik sekalipun hanya dalam tatanan wacana atau di media,” ujarnya.

Sementara itu Ananta Wahana menjelaskan bahwa menjadi pemimpin Indonesia di masa depan dibutuhkan nyali untuk mengubah dunianya menjadi lebih baik. Tokoh seperti Lech Walesa dari Polandia, Soekarno ataupun Joko Widodo adalah orang yang memiliki “nyali” untuk mengubah negaranya dengan risiko dan ancaman begitu besar yang berdiri di hadapannya.

“Jangan menjadi pemimpin pengecut yang mampunya menjadikan orang lain tumbal. Ataupun juga yang hanya menggunakan uang ataupun SARA untuk mencapai tujuannya. Harus punya nyali untuk menjadi pemimpin besar di masa depan,” ujar Ananta Wahana, yang menyatakan mencalonkan diri sebagai Walikota Tangerang Selatan sekalipun dirinya dari kelompok minoritas.

Apa yang dilakukan oleh STIE St Pignatelli itu, Menurut Pastor Clay, adalah untuk memperingati Kebangkitan Nasional dan sekaligus menuju peringatan 70 tahun Kemerdekaan Indonesia dengan bertumpu pada Hari Pendidikan Nasional.

Santo Yosef Maria Pignatelli, Pengaku Iman,  lahir di Saragossa, Spanyol tahun 1737. Anak bangsawan tinggi Spanyol ini mempunyai bakat-bakat ketabahan dan tahan uji yang kemudian terbukti di dalam peristiwa-peristiwa pahit yang dihadapinya. Ketika berusia 16 tahun, ia masuk Serikat Yesus di Tarragona dan kemudian ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1763. Sebagai imam ia ditugaskan berkarya di antara orang-orang miskin di Saragossa, kota kelahirannya.***

 

Tinggalkan Pesan